
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) Bali pada Februari 2026 mencapai 3,89 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 111,40. Secara bulanan (m-t-m), Provinsi Bali tercatat mengalami inflasi sebesar 0,70 persen. Sementara secara year to date (y-to-d), tercatat inflasi sebesar 0,35 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar menjelaskan inflasi tertinggi terjadi di Kota Denpasar sebesar 4,33 persen dengan IHK 112,39. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Badung sebesar 3,06 persen dengan IHK 108,80.
“Secara tahunan, inflasi Bali sebesar 3,89 persen dinilai relatif tinggi,” katanya Senin (2/3).
Penyebab utamanya berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 18,12 persen dengan andil 2,5 persen terhadap total inflasi.
Menurut Agus, kenaikan signifikan pada kelompok ini dipengaruhi faktor basis perbandingan. Pada Januari–Februari 2025, pemerintah melalui PT PLN (Persero) memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen. Sedangkan pada Januari–Maret 2026, tarif listrik yang ditetapkan melalui kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tidak mengalami kenaikan, namun telah kembali ke tarif normal tanpa diskon.
“Perbandingan antara periode diskon tahun lalu dengan tarif normal tahun ini menyebabkan inflasi tahunan terlihat melonjak, meskipun secara harga berjalan relatif stabil,” ujarnya.
Secara umum, kata Agus Hendrayana, inflasi tahunan terjadi karena naiknya harga komoditas yang tercermin dari kenaikan IHK pada sepuluh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau naik 2,42 persen, pakaian dan alas kaki 0,80 persen.
Kemudian, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 18,12 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,01 persen, kesehatan 1,53 persen, transportasi 0,92 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,07 persen, pendidikan 3,09 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,50 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 3,95 persen.
Sementara itu, satu kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks, yakni rekreasi, olahraga, dan budaya yang turun 0,28 persen.
Data BPS Bali mencatat, adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y pada Februari 2026 antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, bawang merah, sewa rumah, biaya pendidikan SMA, Sigaret Putih Mesin (SPM), pemeliharaan atau service kendaraan, Sigaret Kretek Mesin (SKM), cabai rawit, tarif parkir, ikan tongkol diawetkan, bimbingan belajar, Sigaret Kretek Tangan (SKT), mobil, upah asisten rumah tangga, tarif angkutan udara, air kemasan, serta biaya kontrak rumah.
Sebaliknya, komoditas yang memberikan sumbangan deflasi antara lain daging babi, cabai merah, bensin, bawang putih, bayam, wortel, canang sari, kangkung, shampo, tomat, pembalut wanita, bahan bakar rumah tangga, serta sabun cair atau cuci piring. (Suardika/balipost)










