Anggota DPR RI, I Nyoman Parta. (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Era digital mulai mengancam eksistensi bahasa daerah di Pulau Bali. Anggota DPR RI, I Nyoman Parta, mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan: sebanyak 13 persen anak muda Bali kini tidak lagi menggunakan bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Parta di sela-sela acara penyerahan hadiah Wimbakara Bulan Bahasa Bali di Wantilan Pura Dalem Guwang, Sukawati, Jumat (27/2) sore.

Menurut Parta, meski bahasa Bali saat ini masih dikategorikan dalam status “aman” dibanding ratusan bahasa daerah lain di Indonesia yang telah punah, secara psikologi budaya terjadi penurunan intensitas penggunaan yang signifikan. “Sekarang prosesi memadik (meminang) saja sudah banyak menggunakan bahasa Indonesia, lebih dari 50 persen anak muda kita menggunakan bahasa campuran, dan hanya 27 persen yang masih konsisten menggunakan bahasa Bali secara utuh,” tegasnya.

Baca juga:  Jangan Gengsi Berbahasa Bali

Ia menekankan bahwa periode usia 0–5 tahun adalah masa krusial bagi anak untuk mengenal bahasa ibu. Jika fondasi ini terlewatkan, kecenderungan anak untuk menggunakan bahasa Bali saat dewasa akan sangat kecil.

Sebagai langkah konkret mengatasi degradasi tersebut, Parta memprakarsai Wimbakara Bulan Bahasa Bali Warsa VIII secara daring. Dengan tema “Jaga Basa Bali, Jaga Gumi Bali”, ajang ini menyasar kreativitas yowana (pemuda) melalui media digital.

Baca juga:  Wajib Tes PCR Berpotensi Hambat Pemulihan Ekonomi Gianyar

Beberapa kategori yang dilombakan meliputi matembang pop Bali, Ngripta dan Ngwacen Bahasa Bali (Menulis dan Membaca), Video Reportase bertema lingkungan dan pariwisata dan Video Drama Cutet (Film Pendek) untuk promosi UMKM.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa, yang turut hadir dalam acara tersebut, menegaskan bahwa identitas SDM unggul Bali tidak boleh lepas dari akar budayanya.
“SDM Bali yang unggul harus mampu menyeimbangkan tiga pilar: fasih berbahasa Bali sebagai jati diri, lancar berbahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan menguasai bahasa asing untuk daya saing global,” ujarnya.

Baca juga:  Sunari, Salah Satu ‘’Uparengga’’ Yadnya

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, mengapresiasi inisiatif ini sebagai bentuk adaptasi pelestarian budaya di tengah kemajuan teknologi. Melalui kegiatan ini, diharapkan bahasa Bali yang dikenal memiliki taksu tetap menjadi napas dalam kehidupan masyarakat Bali di masa depan. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN