
SINGASANA, BALIPOST.com – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Tabanan dalam beberapa hari terakhir, tak hanya memicu banjir dan longsor, tetapi juga merusak infrastruktur pertanian. Sedikitnya empat daerah irigasi (DI) dilaporkan jebol dan mengancam suplai air bagi ratusan hektar lahan persawahan.
Data Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Tabanan melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) mencatat, saluran induk irigasi yang terdampak masing-masing berada di Daerah Irigasi Subak Taskan Punjuan di Kecamatan Baturiti, Daerah Irigasi Sakeh di Kecamatan Tabanan, serta Subak Saih dan Subak Guama di Kecamatan Marga. Total lahan subak yang dialiri dari empat DI tersebut mencapai sekitar 200 hektar.
Kepala Bidang SDA Irigasi Dinas PU Kabupaten Tabanan, I Gusti Made Wira Ariadi, saat dikonfirmasi, Rabu (25/2), membenarkan kerusakan tersebut. Menurutnya, jebolnya saluran disebabkan debit air yang meningkat drastis akibat hujan deras yang terjadi hampir tanpa jeda. “Saluran induk ada empat titik yang jebol. Sementara ini sudah kami tangani secara darurat bersama krama subak dengan gotong royong menggunakan kampil (karung,red),” jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan sementara difokuskan untuk memastikan aliran air tetap bisa mengairi sawah petani, sehingga tidak mengganggu masa tanam yang sedang berjalan. Krama subak di Taskan, Punjuan, dan wilayah lainnya secara swadaya memperbaiki tanggul dan memperkuat bagian saluran yang tergerus arus.
Meski telah dilakukan penanganan darurat, kondisi jaringan irigasi di sejumlah titik dinilai masih rentan. Dimana selain empat DI yang jebol akibat cuaca ekstrem ini, terdapat sekitar 26 titik jaringan daerah irigasi di Tabanan yang sebelumnya telah diusulkan untuk direhabilitasi di tahun 2026. “Ada 26 titik yang memang sangat penting untuk bisa segera dilakukan rehabilitasi,” tegas Wira Ariadi.
Namun demikian, perbaikan permanen akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah. Pemerintah daerah tentunya akan menerapkan skala prioritas, terutama pada jaringan irigasi yang mengairi lahan pertanian produktif dan memiliki tingkat kerusakan berat. (Puspawati/balipost)










