Tim dari Pertamina melakukan pengecekan terkait penyebab kematian ratusan mangrove yang diduga karena kebocoran pipa BBM di Benoa, Denpasar. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Inspeksi anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, di kawasan Benoa, persisnya di barat jalan pintu masuk Tol Bali Mandara, Benoa, Denpasar Selatan menemukan ratusan pohon mangrove sudah kering dan mati. Matinya ratusan mangrove diduga akibat kebocoran pipa BBM.

Politisi PDI Perjuangan menduga kematian mangrove ini kemungkinan ada kaitan dengan pipa BBM milik Pertamina lantaran pada November 2025 lalu sempat dilakukan pemeliharaan pada jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju Pangkalan Pertamina Pesanggaran.

Dugaan ini pun direspons pihak Pertamina Patra Niaga. Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad, mengatakan Depo BBM Sanggaran sebagai lokasi terminal terdekat telah melaksanakan pengecekan bersama tim Polairud pada Sabtu (21/2). Hasil pengecekan visual, tidak ditemukan adanya lapisan minyak atau pun bau menyengat BBM.

“Pagi ini setelah pengecekan bersama Polairud, tim Terminal BBM Sanggaran juga telah menghadiri undangan rapat koordinasi dari DKLH Provinsi Bali. Sebagai tindaklanjut, Pertamina Patra Niaga melalui Terminal BBM Sanggaran akan melaksanakan pengecekan kronologis kegiatan operasional terkait sepanjang beberapa bulan terakhir, terutama terkait pekerjaan pipanisasi di sekitar area Benoa,” ujar Ahad, Sabtu (21/2).

Baca juga:  Presiden Tegaskan Mudik Diperbolehkan, Asalkan Syarat Ini Sudah Terpenuhi

Selanjutnya Ahad juga menjelaskan, Pertamina akan melaksanakan percepatan pemulihan kawasan mangrove yang dalam prosesnya akan saling membantu dengan perusahaan terkait lainnya yang memiliki operasional di kawasan Benoa sebagaimana arahan dari DKLH Provinsi Bali.

“Saat ini, Pertamina dalam proses investigasi lebih lanjut terkait operasional terkait termasuk pengecekan ekosistem terdampak untuk memastikan penyebab matinya pohon mangrove secara mendadak di kawasan Benoa,” tegasnya.

Sebelumnya, pada Jumat (20/2), Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, melakukan peninjauan karena melihat kejanggalan saat pulang dari Jakarta dan melintas di jalur Tol Bali Mandara. Dari atas tol, ia melihat banyak pohon mangrove yang tampak mengering dan mati.

“Pas pulang dari Jakarta saya lihat kok banyak mangrove yang mati. Ini kematian yang bukan karena umur, tapi karena faktor luar. Kita akan minta pihak Tahura, Pelindo dan Jasa Marga menjelaskan kenapa ratusan mangrove ini mati,” kata Nyoman Parta

Baca juga:  Baru Bebas, Residivis Satroni Lima Rumah untuk Judol

Tak hanya memantau dari darat, ia bahkan menyewa jukung untuk meninjau langsung dari sisi laut guna memastikan kondisi di lapangan. Dalam peninjauan tersebut ditemukan sekitar 200 hingga 300 pohon mangrove mati secara bersamaan.

Jenis mangrove yang terdampak, di antaranya Sonneratia alba (prapat), Rhizophora apiculata (bakau), dan Avicennia marina (api-api).

Saat melakukan pengecekan dari laut, Nyoman Parta didampingi komunitas pecinta mangrove “Mangrove Ranger” serta kelompok nelayan Simbar Segara. Mereka menyampaikan bahwa kematian mangrove tersebut diduga kuat bukan karena faktor usia, melainkan akibat penyebab eksternal.

Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan kebocoran pipa BBM milik Pertamina. Informasi yang dihimpun menyebutkan pada November 2025 lalu sempat dilakukan pemeliharaan pipa BBM pada jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju Pangkalan Pertamina Pesanggaran. Pada periode yang sama, pohon-pohon mangrove disebut mulai layu.

Baca juga:  Tiga Maskapai Asing Jajaki Pembukaan Rute ke Bali

“Saya curiga ini matinya bukan faktor alami. Memang perlu dibuktikan, tapi berdasarkan informasi awal ada dugaan kebocoran pipa milik Pertamina atau perusahaan yang ada di sini,” ungkapnya.

Ia pun meminta sejumlah pihak terkait, seperti Tahura, Pelindo, Pertamina, Jasa Marga, dan Indonesia Power memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait penyebab pasti kematian ratusan mangrove tersebut. Tak hanya itu, Nyoman Parta juga mendesak aparat penegak hukum turun tangan. Ia meminta Polda Bali dan Kejaksaan Tinggi Bali untuk mengusut tuntas kasus ini.

“Saya mohon kepada Polda Bali dan Kejati Bali untuk mengusut siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Ini mangrove di pinggir jalan yang bisa dilihat semua orang, masa sudah dibuat mati tanpa pertanggungjawaban,” tegasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN