Ilustrasi. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat ratusan kasus pneumonia pada balita, tepatnya 155 kasus, ditemukan di seluruh kabupaten/kota di Bali sepanjang Januari 2026. Di tengah cuaca yang tidak menentu dan peralihan musim, orangtua diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) agar tidak berkembang menjadi pneumonia.

Berdasarkan data pembaruan per 10 Februari 2026, total estimasi penemuan kasus pneumonia balita di Bali tahun ini mencapai 9.138 kasus. Angka tersebut merupakan target estimasi dari Kementerian Kesehatan RI, dengan ketentuan minimal 50 persen harus ditemukan melalui deteksi aktif di lapangan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid PPP) Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, M.Kes, menjelaskan angka 9.138 kasus bukan berarti seluruhnya sudah terjadi, melainkan estimasi yang menjadi acuan kinerja penemuan kasus.

“Ini memang perkiraan dari pusat. Kami ditarget untuk menemukan kasus pneumonia pada balita. Jadi angka 9.138 itu estimasi yang harus kami capai melalui penemuan kasus,” jelasnya, saat dikonfirmasi, Rabu (18/2).

Menurutnya, setiap penyakit memiliki perhitungan estimasi tersendiri dari pemerintah pusat. Selain pneumonia, target penemuan juga berlaku untuk HIV dan TBC. Estimasi tersebut menjadi dasar kegiatan deteksi dan pelaporan.

Baca juga:  Setelah 6 Hari Nihil, Korban Jiwa COVID-19 Kembali Bertambah di Bali

Secara rinci, dari 155 kasus pneumonia balita pada Januari 2026, Kabupaten Tabanan mencatat jumlah tertinggi yakni 55 kasus dari estimasi 3.074 kasus, dengan total ISPA balita mencapai 820 kasus.

Disusul Kabupaten Klungkung dengan 44 kasus dari estimasi 172 kasus atau capaian 25,58 persen, serta total ISPA balita sebanyak 480 kasus.

Kota Denpasar mencatat 34 kasus pneumonia dari estimasi 1.259 kasus dengan total ISPA 773 kasus. Kabupaten Buleleng menemukan 22 kasus pneumonia dari estimasi 744 kasus, dengan total ISPA 663 kasus.

Sementara itu, beberapa daerah belum mencatat penemuan kasus pneumonia pada periode pelaporan ini. Jembrana nihil pneumonia, namun terdapat 664 kasus batuk bukan pneumonia. Badung dan Karangasem juga belum mencatat kasus pneumonia. Gianyar dan Bangli pun nihil kasus pneumonia, meski masing-masing mencatat 780 dan 60 kasus batuk bukan pneumonia.

Secara keseluruhan, jumlah kasus batuk bukan pneumonia pada balita di Bali mencapai 4.085 kasus. Dengan tambahan 155 kasus pneumonia, total ISPA balita sepanjang Januari 2026 tercatat sebanyak 4.240 kasus.

Raka Susanti menegaskan, angka 155 kasus pada Januari tidak menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Enggak terlalu meningkat, memang biasanya angkanya dari tahun ke tahun tidak terlalu ada peningkatan,” ujarnya.

Baca juga:  Gempa Lagi, Kekuatannya 5,6 SR

Ia menambahkan, jika pada bulan berikutnya ditemukan peningkatan mencolok, pihaknya akan segera melakukan intervensi dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota.

Terkait perbedaan angka yang cukup mencolok antar daerah, seperti Tabanan dengan 55 kasus sementara Jembrana nihil, ia menjelaskan bahwa laporan kasus pneumonia umumnya berasal dari rumah sakit.

“Pneumonia ini kan kasusnya ada di rumah sakit. Jadi laporannya memang dari rumah sakit. Bisa saja rumah sakit di Jembrana memang belum menemukan pneumonia sampai Februari ini,” jelasnya.

Seluruh kasus pneumonia yang dilaporkan masuk dalam satu kategori pencatatan di Dinas Kesehatan tanpa dibedakan ringan, sedang, atau berat.

Secara klinis, pneumonia merupakan radang paru yang rentan menyerang balita. Gejala awal biasanya didahului batuk dan pilek, disertai demam. Jika tidak segera ditangani, dapat berkembang menjadi sesak napas.

Orang tua diminta mewaspadai tanda bahaya seperti napas lebih cepat dari biasanya atau pada bayi tampak tarikan pada cuping hidung saat bernapas.

“Kalau batuk pileknya mengarah ke sesak, napasnya lebih cepat, kemudian pada bayi ada napas cuping hidung, agar segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegasnya.

Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Bali, terutama rumah sakit, dinyatakan siap menangani kasus pneumonia balita. Biasanya, jika ditemukan di puskesmas dan sudah disertai sesak, pasien akan langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan tata laksana khusus.

Baca juga:  15 Bulan Dilanda Pandemi, Kumulatif Warga Terpapar COVID-19 di Bali Tembus 51 Ribu

Untuk wilayah dengan angka relatif tinggi seperti Tabanan, Dinas Kesehatan Bali tetap melakukan pemantauan rutin dan komunikasi intensif. Jika ditemukan peningkatan pada bulan kedua tahun ini, penyelidikan epidemiologi (PE) akan segera dilakukan guna menekan risiko penyebaran.

Tingginya angka ISPA pada Januari juga menjadi perhatian. ISPA termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak di puskesmas. Setiap kasus batuk dan pilek sudah masuk kategori ISPA, sehingga pengawasan difokuskan agar tidak berkembang menjadi pneumonia.

Perubahan cuaca juga diduga berpengaruh terhadap peningkatan ISPA. “ISPA ini memang berhubungan dengan faktor cuaca. Salah satu penyakit yang diwaspadai dengan perubahan musim adalah ISPA. Kemungkinan bisa terjadi peningkatan karena perubahan musim,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, orang tua diimbau meningkatkan daya tahan tubuh anak melalui gizi seimbang, pemberian vitamin, serta melengkapi imunisasi. Vaksin untuk mencegah pneumonia akibat bakteri maupun virus telah tersedia dalam program imunisasi.

“Jangan lewatkan imunisasi untuk tetap meningkatkan imunitas, sehingga anak-anak terhindar dari pneumonia, khususnya yang berat,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN