
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat perekonomian Bali menunjukkan penguatan signifikan pada akhir 2025. Pada triwulan IV-2025, ekonomi Bali tumbuh 3,33 persen secara kuartalan (q-to-q), sementara bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y), ekonomi Bali pada triwulan IV-2025 tumbuh sebesar 5,86 persen.
Jika diakumulasikan pertumbuhan triwulan I-2025 sampai dengan triwulan IV- 2025, maka ekonomi Bali pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,82 persen (c-to-c). Ini menjadikan pertumbuhan tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar menyampaikan, kinerja tersebut tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali yang atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp85,05 triliun, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp46,40 triliun. Nilai ini meningkat dibandingkan triwulan III-2025 yang sebesar Rp44,91 triliun.
“Peningkatan nilai tambah dari berbagai aktivitas ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan IV-2025 sebesar 3,33 persen secara q-to-q,” ujarnya, Kamis (5/2).
Pertumbuhan ekonomi Bali pada periode ini didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat selama perayaan hari besar keagamaan Galungan dan Kuningan, perayaan Natal dan Tahun Baru, serta masa libur sekolah. Kondisi tersebut mendorong konsumsi masyarakat dan menggairahkan berbagai lapangan usaha.
Selain itu, ekonomi Bali juga mendapat dorongan dari peningkatan produksi pertanian yang memasuki musim panen, khususnya komoditas tanaman pangan.
Dari sisi produksi, lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 21,49 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh signifikan sebesar 36,90 persen, seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai pemerintah.
Secara struktur, dari 17 lapangan usaha penyusun PDRB, sebanyak 13 lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan positif, sementara empat lapangan usaha mengalami kontraksi secara q-to-q. Tiga sektor dengan pertumbuhan tertinggi selain administrasi pemerintahan adalah pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 8,93 persen, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 6,27 persen.
BPS mencatat, meningkatnya realisasi belanja pegawai, baik yang bersumber dari APBN maupun APBD, masing-masing naik sekitar 10 persen dan 23 persen, turut mendorong penciptaan nilai tambah pada sektor administrasi pemerintahan dan jasa kesehatan.
Sementara itu, pertumbuhan sektor pengadaan listrik dan gas dipicu oleh meningkatnya konsumsi listrik rumah tangga dan aktivitas ekonomi, dengan total listrik terjual meningkat sekitar 10 persen selama triwulan IV-2025.
Di sisi lain, terdapat empat lapangan usaha yang mengalami kontraksi dan menahan laju pertumbuhan ekonomi Bali, yakni pertambangan dan penggalian, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta jasa perusahaan.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi kontributor terbesar kedua perekonomian Bali juga tumbuh positif sebesar 3,82 persen secara q-to-q. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh produksi padi yang meningkat 33,75 persen seiring masuknya musim panen, serta peningkatan produksi komoditas perkebunan dan perikanan.
Secara kontribusi terhadap pertumbuhan, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib memberikan sumbangan terbesar sebesar 1,12 persen, disusul Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 0,60 persen, serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 0,46 persen.
BPS menilai, kombinasi meningkatnya konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, serta produksi sektor primer menjadi faktor utama yang menopang penguatan ekonomi Bali pada akhir 2025, sekaligus mencatatkan pertumbuhan tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. (Suardika/bisnisbali)










