Pelajar dan penyuluh menulis aksara Bali di atas daun lontar saat pembukaan Bulan Bahasa Bali ke-8 di Taman Budaya Bali, Denpasar, Bali, Minggu (1/2/2026). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) menjadikan Bulan Bahasa Bali sebagai wahana bagi generasi penerus melestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Menurut Gubernur Bali Wayan Koster, Bulan Bahasa Bali merupakan program unggulan dalam menjaga Bahasa Bali yang merupakan hulunya kebudayaan. “Saya sangat bahagia kalau hadir di Bulan Bahasa Bali, tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini, karena ini yang akan menjaga generasi penerus ke depan, menjaga kehidupan masyarakat Bali sepanjang zaman meski diterpa berbagai intervensi lokal, nasional, maupun global,” kata Gubernur Bali Wayan Koster, Minggu (1/2) dikutip dari Kantor Berita Antara.

Koster di Denpasar, Minggu, membuka Bulan Bahasa Bali kedelapan yang berlangsung 1-28 Februari 2026, yang merupakan program unggulan dalam menjaga Bahasa Bali sebagai hulunya kebudayaan Bali.

“Rasa-rasanya hanya di Bali ada agenda bulan bahasa, coba cek sekarang di daerah lain aksara dan bahasanya makin punah, kalau sudah keduanya punah, maka sastranya pun akan punah,” ujarnya.

Baca juga:  Tunggu Anggaran, Satgas Lakukan Pendataan Kerusakan Jalan Nasional

Oleh karena itu, Pemprov Bali sejak terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, tak pernah absen menggelar ajang penguatan dan pengembangan melalui Bulan Bahasa Bali.

Gubernur Koster tidak ingin bahasa, aksara, dan sastra Bali kalah dimakan zaman. Ia menilai justru kemajuan ini harus ditangkap sebagai upaya mengembangkan warisan leluhur.

“Dalam konteks itu kita tidak boleh kalah, apalagi mati budayanya, jadi dia harus tetap hidup berdampingan dan berinteraksi dengan nilai-nilai luar, jangan sampai nilai luar mematikan budaya kita,” kata dia.

Jika bahasa, aksara, dan sastra Bali punah, menurut Koster, kesalahan yang pertama adalah kepada leluhur, kemudian masyarakat Bali sendiri tidak lagi memiliki nilai-nilai dalam menjalankan kehidupan, sebab selama ini segala hal di Bali berjalan berangkat dari tradisi yang diwariskan leluhur.

Baca juga:  Pencanangan Penggunaan Aksara Bali Disebut Tonggak Pelestarian Bahasa Ibu

Plt Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali IB Wesnawa Punia menambahkan tahun ini Bulan Bahasa Bali kedelapan mengambil tema Atma Kerthi Udiana Purnaning Jiwa yang berarti Bulan Bahasa Bali menjadi taman untuk membangun jiwa yang paripurna.

Setelah dibuka dengan sesolahan atau pertunjukan, gelaran dilanjutkan dengan utsawa atau festival seperti nyurat atau menulis lontar beraksara Bali.

“Festival nyurat dilakukan di beberapa sarana, seperti batu, tembaga, kain berupa rerajahan juga baligrafi, kertas, lontar, juga media digital kreatif,” ucap Plt Kepala Disbud Bali.

Selanjutnya, widyatula atau seminar yang akan membahas lontar-lontar tentang membangun jiwa yang paripurna.

Ketiga, wimbakara atau lomba yang diisi 17 lomba mencakup bahasa, aksara, dan sastra Bali serta perkembangan teknologi informasi, dengan pesertanya adalah perwakilan kabupaten/kota serta masyarakat umum.

Keempat, kriya loka atau workshop dilaksanakan dengan tiga topik, yaitu membahas baligrafi, tuntunan membawa acara Bahasa Bali, dan berbicara soal Bahasa Bali.

Baca juga:  Upaya Pelestarian Bahasa Bali Harus Masif

Kelima, reka aksara atau pameran yang membahas transformasi bahasa, aksara, dan sastra Bali, serta menunjukkan teknologi industri kreatif yang diikuti komunitas kreatif, UMKM, dan lembaga pendidikan.

Selanjutnya, sesolahan atau pertunjukan berupa panggung apresiasi sastra Bali berupa teater dan drama Bali moderen.

“Ketujuh konservasi lontar, ini usaha Pemprov Bali menjaga warisan leluhur, lontar yang dikonservasi milik masyarakat Bali di kabupaten/kota yang dikumpulkan penyuluh bahasa Bali,” ucap IB Wesnawa.

Kedelapan paguneman pengawi Bali atau diskusi tentang sastra Bali yang diikuti praktisi, media, mahasiswa, dan kritikus sastra.

Pada penutupan Bulan Bahasa Bali, Disbud Bali akan memberikan penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama atau penghargaan paling utama soal bahasa, aksara, dan sastra Bali kepada tokoh yang berjasa. (kmb/balipost)

BAGIKAN