Nelayan Kusamba mengamankan jukung mereka dengan cara diikat di pesisir pantai agar tidak hanyut, Rabu (28/1/2026). (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Gelombang laut setinggi sekitar 4 meter menerjang perairan Pantai Segara, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, pada Selasa (27/1) sekitar pukul 15.00 WITA. Kondisi ini memaksa para nelayan setempat menghentikan aktivitas melaut demi keselamatan.

Seorang nelayan setempat, Ketut Subrata asal Banjar Tengah, mengatakan gelombang tinggi tersebut telah diperkirakan sebelumnya berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bahkan, menurutnya, puncak gelombang diperkirakan terjadi pada Rabu (28/1).

Baca juga:  Dua Pemotor Tabrak Kendaraan Parkir di Badan Jalan

“Sesuai ramalan BMKG, dua hari belakangan ini ombak bakal besar dan hari Rabu ini merupakan puncaknya,” ujar Subrata.

Akibat kondisi ombak besar tersebut, para nelayan mengamankan jukung mereka dengan cara diikat di pesisir pantai agar tidak hanyut. Bahkan, dua unit jukung terpaksa dinaikkan hingga ke badan jalan untuk menghindari benturan dengan jukung lainnya.

“Saat ini ada sekitar 20 jukung nelayan yang diikat dan diparkir di pesisir agar tidak hanyut dan saling bertabrakan,” ujar Subrata.

Baca juga:  Tiga Hari Terakhir, Sampah di Sungai Meningkat

Subrata menambahkan, para nelayan di Kusamba sudah sekitar 10 hari tidak melaut. Sebelumnya, aktivitas melaut terhenti akibat hujan deras dan angin kencang.

“Baru hujan dan angin hilang, sekarang malah muncul ombak besar, jadi nelayan kembali menganggur,” jelasnya.

Terkait ketersediaan ikan di laut, Subrata mengaku hasil tangkapan sebenarnya masih ada. Namun, nelayan kerap menghadapi kendala lain, yakni gangguan dari ikan lumba-lumba yang jumlahnya semakin banyak di perairan Kusamba dan Nusa Penida.

Baca juga:  HUT ke-130 Kota Negara: Ribuan Tukik Dilepas, Pantai Bersih Sampah Plastik

“Saat tebar jaring, sering harus berebut dengan lumba-lumba. Banyak ikan yang sudah terjaring malah dimangsa, bahkan jaring nelayan sering dirobek,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi nelayan, baik akibat tidak bisa melaut maupun kerusakan alat tangkap.

“Selain jaring rusak, hasil tangkapan juga hanya menutupi biaya BBM saja ketika melaut,” terangnya. (Sri Wiadnyana/denpost)

BAGIKAN