
DENPASAR, BALIPOST.com – Kenaikan harga perak yang kian tak terkendali membuat para perajin perhiasan perak berada di posisi sulit. Harga bahan baku yang melonjak tajam bukan hanya memukul biaya produksi, tetapi juga menghentikan aktivitas kerja di banyak bengkel perak.
Berdasarkan informasi harga perak Antam pada Selasa, 27 Januari 2026, tercatat mencapai Rp66.750 per gram. Namun di lapangan, harga perak bervariasi dan membingungkan. Ada yang masih bertahan di kisaran Rp50.000–Rp58.000 per gram, bahkan disebut-sebut menembus Rp65.000 per gram, tergantung kualitas bahan, apakah perak lokal atau logam mulia.
“Sudah bingung kami di lapangan, harga beda-beda. Mau beli barang juga susah, stok tidak ada,” ujar Misadi, perajin perak Berlian66 saat dihubungi di Denpasar, Selasa (27/1).
Kondisi tersebut memaksa sebagian perajin menghentikan sementara aktivitas produksi. Selain masalah harga, lesunya animo masyarakat turut memperparah keadaan. Ketidakstabilan harga membuat konsumen ragu bertransaksi. “Jual beli di pasaran sulit karena peminat turun, orang masih menunggu dan tidak berani,” ujar Misadi.
Meski demikian, harapan para perajin sederhana harga perak kembali stabil. “Kalau pun naik, yang penting stabil, bukan tidak menentu seperti sekarang,” imbuhnya.
Putu Sudi Adnyani, pemilik Bara Gold and Silver Jewelry mengatakan, dampak kenaikan harga perak beberapa hari terakhir, paling terasa adalah terhentinya pekerjaan para tukang. “Tukang jeda kerja, sudah hampir dua minggu tidak bekerja,” keluhnya.
Mami Bara biasa ia disapa mengungkapkan, pesanan dari pelanggan pun tak bisa diselesaikan karena keterbatasan bahan baku. “Pesanan tidak bisa dikerjakan setengah jadi,” katanya.
Kerugian pun tak terelakkan. Banyak perajin mengaku menerima pesanan saat harga perak masih di kisaran Rp24.000 per gram. Ketika harga melonjak drastis, biaya produksi membengkak dan margin keuntungan lenyap. “Pasti rugi,” tegas Mami Bara.
Untuk bertahan, sebagian perajin mulai mencari jalan keluar dengan beralih ke bahan lain. Kuningan, tembaga, hingga logam aloi mulai dilirik sebagai alternatif, tetap dengan desain perhiasan eksklusif. “Rencana beralih ke bahan lain, semoga tidak ikut naik harga bahan bakunya,” ungkapnya.
Meski demikian, harapan para perajin sederhana, harga perak kembali stabil. Stabilitas harga dinilai menjadi kunci agar produksi kembali berjalan dan roda ekonomi perajin perak bisa berputar lagi.
Hal sama dikatakan pengelola dari Puspa Mega Silver. Lonjakan harga perak yang terus terjadi berdampak langsung terhadap kelangsungan usaha perajin perhiasan perak. Saat ini, harga perak dilaporkan telah mencapai Rp57 juta per kilogram, memicu penundaan pesanan dan penurunan pembelian di tingkat perajin.
Menurutnya, tingginya harga perak membuat konsumen memilih menunggu situasi lebih stabil sebelum memesan perhiasan. Kondisi tersebut turut mempengaruhi arus kas usaha karena produksi tidak dapat berjalan normal.
Meski demikian, pihaknya memilih tetap bertahan menggunakan bahan baku perak murni. “Kalau di Puspa Mega, kami masih tetap memakai bahan baku perak,” katanya.(Suardika/balipost)










