Kegiatan vaksinasi PMK pada ternak sapi di wilayah Kabupaten Tabanan. (BP/dokumen)

SINGASANA, BALIPOST.com – Ditiadakannya program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) sejak 2024 membuat peternak sapi di Kabupaten Tabanan diliputi kekhawatiran. Di tengah ancaman penyakit menular seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) serta lumpy skin disease (LSD), ternak sapi kini tidak lagi terlindungi asuransi bersubsidi dari pemerintah pusat.

Program AUTS yang sebelumnya digulirkan Kementerian Pertanian memberikan subsidi premi asuransi sebesar Rp160 ribu dari total premi Rp200 ribu per ekor per tahun. Peternak hanya menanggung Rp40 ribu. Namun sejak tahun lalu, program tersebut tidak lagi tersedia.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, drh. Gede Eka Partha Ariana mengatakan, hingga kini tidak ada lagi alokasi anggaran AUTS dari pemerintah pusat. “Informasinya memang tidak ada anggaran AUTS dari Kementerian Pertanian sejak 2024. Terakhir dilaksanakan pada 2023,” ujarnya, Selasa (27/1).

Baca juga:  Wagub Bali hingga Pangdam Tak Divaksinasi COVID-19, Kadiskes Bali Beber Alasannya

Ia menambahkan, sejatinya AUTS sejak awal memang tidak meng-cover seluruh jenis penyakit ternak. Jenis penyakit yang ditanggung asuransi telah diatur oleh pemerintah pusat. “Sepengetahuan kami, untuk kasus PMK dan LSD memang tidak termasuk penyakit yang ditanggung dalam skema AUTS,” jelasnya.

Meski demikian, AUTS dinilai tetap memberikan rasa aman bagi peternak karena mampu melindungi dari risiko tertentu seperti kematian akibat kecelakaan atau penyakit yang masuk dalam ketentuan asuransi. Saat ini, pihaknya hanya dapat mendorong peternak untuk mengikuti program asuransi ternak secara mandiri dengan premi penuh sebesar Rp200 ribu per ekor per tahun.

Baca juga:  Survei : Mayoritas Generasi Milenial dan Z Anggap Asuransi Jiwa Penting

Di sisi lain, data Dinas Pertanian Tabanan menunjukkan populasi sapi mengalami penurunan signifikan. Pada 2024 tercatat sekitar 38 ribu ekor, sementara pada 2025 menurun menjadi 31 ribu ekor. Penurunan tersebut antara lain dipicu berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor peternakan dan beralih ke sektor jasa.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh peternak. Peternak sapi asal Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti, I Wayan Doni Ardhita mengaku waswas karena ternaknya kini tidak lagi tercover asuransi, sementara ancaman penyakit semakin kompleks. “Keuntungan peternak per ekor rata-rata hanya sekitar Rp2.000 per hari. Sangat berat kalau harus menanggung premi asuransi secara penuh,” ungkapnya.

Baca juga:  Perkuat Sektor Perasuransian, OJK Siapkan Sejumlah Langkah

Menurut Doni, meskipun AUTS tidak menanggung semua penyakit, keberadaan program tersebut setidaknya memberi ketenangan psikologis bagi peternak. “Terakhir sapi saya ikut AUTS tahun 2022. Waktu itu penyakit belum seperti sekarang. Sekarang ancamannya jauh lebih besar,” katanya.

Selain persoalan asuransi, Doni juga menyoroti lemahnya pasar penjualan sapi yang membuat pendapatan peternak semakin tidak menjanjikan. Tidak semua peternak menjual sapi saat Idul Adha, sebagian menjual untuk kebutuhan harian, namun kondisi pasar dinilai sepi.

Ia mengingatkan, jika situasi ini terus berlanjut tanpa intervensi pemerintah, keberlangsungan peternakan Sapi Bali terancam. “Generasi muda makin enggan beternak. Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin ke depan sapi Bali akan punah,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN