
DENPASAR, BALIPOST.com – Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali menegaskan pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun 2026 tetap dilaksanakan sesuai pedoman dan tradisi yang telah berjalan turun-temurun. Penegasan ini tertuang dalam Surat Edaran MDA Bali Nomor 002/SE/MDA-Prov Bali/I/2026 tentang Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun 2026.
Surat edaran tersebut dikeluarkan sebagai respons atas berkembangnya perbincangan di ruang publik terkait penentuan Tika dan pelaksanaan Nyepi Sipeng, khususnya yang berkaitan dengan Tawur Agung Kesanga dan Hari Raya Nyepi pada Tilem Kasanga.
Bandesa Agung MDA Bali, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menegaskan bahwa tata cara pelaksanaan Nyepi telah memiliki landasan kuat yang bersumber dari tradisi, sastra, lontar, Tika, dan Wariga, serta merupakan hasil keputusan para sulinggih terdahulu yang memahami secara mendalam ajaran tersebut.
“MDA sangat berhati-hati dan tidak ingin mengganggu tatanan pelaksanaan keagamaan yang telah dijalankan para wiku sejak dahulu,” ujar Sukahet dalam surat edaran tersebut.
Pihaknya juga menegaskan tidak ingin ikut memperkeruh perbedaan pandangan yang berkembang di tengah umat Hindu Bali. Menurutnya, keputusan terkait pelaksanaan Nyepi merupakan Bhisama Sulinggih yang telah disepakati bersama, dengan prinsip tidak ada yang paling benar atau paling salah, namun patut dilaksanakan secara bersama-sama demi keharmonisan umat.
Atas dasar itu, MDA Bali mengimbau seluruh krama Hindu Bali agar tetap tenang, mantap dalam pikiran, dan melaksanakan rangkaian Tawur Kesanga serta Nyepi Sipeng Tahun 2026 sebagaimana pelaksanaan sebelumnya.
Jika ke depan masih diperlukan pembahasan lebih lanjut terkait Tika dan Nyepi Sipeng, ia menegaskan pembahasan tersebut agar dilakukan setelah rangkaian Tawur Agung Kesanga dan Hari Raya Nyepi Tahun 2026 selesai dilaksanakan.
MDA Bali berharap para sulinggih dapat kembali menyatukan pikiran dan pandangan untuk melahirkan satu keputusan bersama yang menjadi pedoman umat Hindu Bali. Persatuan dan keharmonisan umat dinilai penting untuk menjaga keseimbangan dan kedamaian Bali, Nusantara, serta umat Hindu secara keseluruhan.
Surat edaran tersebut ditetapkan di Denpasar pada Wraspati Wage, Medangkungan, 22 Januari 2026, dan ditandatangani Bandesa Agung MDA Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet serta Panyarikan Agung Dr. Dewa Nyoman Rai Asmara Putra. (Ketut Winata/bnalipost)










