Sejumlah ibu-ibu menggunakan pangan lokal dan teknik memasak tradisional dalam lomba masak yang digelar di Art Center, Denpasar, Sabtu (24/1). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Suasana kesibukan yang tak biasa tampak di Taman Budaya Art Center, Denpasar pada Sabtu (24/1) siang. Jika biasanya lokasi ini digunakan untuk pementasan tari-tarian dan drama, pada siang itu sejumlah ibu-ibu sibuk memasak dalam kompetisi bertajuk Cerita Rasa.

Kompetisi ini terbilang unik karena lebih menitikberatkan teknik memasak tradisional dengan mengusung pangan lokal yang menjadi ciri khas di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perwakilan dari NTT menggunakan tungku untuk memasak yang merepresentasikan rumah tradisional. Sementara dari Bali, para ibu memarut kelapa dengan alat parut tempo dulu dan menggunakan ulekan batu untuk meracik bumbu. Teknik memasak tradisional yang mulai ditinggalkan, digunakan para ibu ini untuk menghasilkan masakan khas yang penuh cita rasa.

Mereka ini tak hanya mampu memasak namun merupakan pelaku UMKM yang memanfaatkan pengetahuan secara turun temurun dalam mengolah pangan lokal menjadi masakan yang digemari masyarakat dan bisa menjadi sumber pemasukan dalam membantu perekonomian keluarga, bahkan menyekolahkan anak-anak hingga menjadi sukses.

Baca juga:  Ini Klaster Rosella Yang Terus Berkembang Berkat Pemberdayaan BRI

Salah satu ibu yang berasal dari Gianyar, Alda Aries mengungkapkan antusiasmenya dalam memasak. Sebagai seorang ibu yang sehari-hari dekat dengan dapur dan pangan lokal, ia menilai masakan rumahan juga punya nilai dan cerita.

Dari dapur rumah tangga, cita rasa lahir dari teknik memasak, alat tradisional, dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Mulai dari rempah, umbi, sayur mayur, hingga hasil laut menjadi hidangan segar yang menopang kebutuhan keluarga sekaligus perekonomian.

Menurut salah satu juri, Aria Widyanto, kompetisi ini menggunakan pangan lokal dengan melibatkan ibu-ibu yang berkecimpung dalam usaha kuliner. Ini, merupakan upaya merawat pangan lokal sekaligus memperkuat peran UMKM dalam ekonomi daerah.

‘Masyarakat Bali dan Nusa Tenggara sejak lama memanfaatkan teknologi pangan sederhana berbasis alam. Lesung dan Alu digunakan untuk menumbuk bumbu, bambu dipakai sebagai alat masak, hingga teknik pengasapan yang membuat makanan lebih awet dan bercita rasa khas,” sebutnya.

Baca juga:  BRI Raih Penghargaan Omni Brands of The Year 2022

Dari sisi ekonomi, pemberdayaan perempuan lewat bisnis kuliner terbukti mampu mengangkat derajat hidup keluarga. Pria yang menjabat sebagai Chief Risk and Sustainability Officer Amartha ini mencontohkan pihaknya telah menyalurkan Rp37triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan yang memang menjadi fokus dari penyaluran kredit ini. “Sebagian besar dari nasabah itu berbisnis kuliner,” jelasnya.

Ia mengutarakan tradisi memasak ini tidak hanya membentuk cita rasa, tetapi juga bisa mendatangkan manfaat ekonomi. “Mereka menjadikan warisan kuliner ini sebagai usaha yang bisa meningkatkan perekonomian mereka. Dengan menjadi pengusaha kuliner, mereka misalnya bisa mensupport pendidikan anak-anaknya,” papar Aria.

Ia pun menyebut Bali memiliki potensi pengembangan UMKM yang sangat besar. Selain kuliner, potensi lainnya adalah sektor kerajinan dan pariwisata. “Bali dan Nusa Tenggara ini cukup potensial. Jadi tidak hanya bisnis kuliner, tapi juga dari kerajinan dan pariwisata. Terutama yang dilakukan oleh pengusaha perempuan,” jelasnya.

Baca juga:  Standardization of Childcare Center must be Supervised

Dinas Koperasi (Diskop) dan UMKM Provinsi Bali mencatat jumlah UMKM mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 2024 rasio keberadaan UMKM di Bali telah mencapai 10,05 persen dari jumlah penduduk.

Angka ini menunjukan pertumbuhan yang positif mengingat target ideal jumlah UMKM di suatu wilayah atau negara mencapai 4 persen dari jumlah penduduknya.

Berdasarkan data dari Diskop dan UMKM Provinsi Bali, perkembangan jumlah UMKM pada 4 tahun terakhir, yakni pada 2021 mencapai 327.353 unit usaha, 2022 mencapai 440.609 unit usaha, 2023 mencapai 439.382 unit usaha dan 2024 mencapai 448.434 unit usaha.

Jika dilihat dari jumlah penduduk di Bali yang pada 2024 mencapai 4,4 juta jiwa, rasio  UMKM tercatat sudah 10,05 persen. Angka ini pun mengalami peningkatan dari 2021 yang rasio kewirausahaan mencapia 9,75 persen. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN