Pengambilan sampel darah sapi oleh petugas beberapa waktu lalu. (BP/Istimewa)

 SINGARAJA, BALIPOST.com – Kasus Lumpy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Buleleng bertambah. Sebanyak tiga ekor sapi di dua desa di Kecamatan Gerokgak dipastikan terjangkit LSD.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, dikonfirmasi Jumat (23/1) menjelaskan, pengambilan sampel dilakukan bersamaan menyusul adanya sejumlah sapi milik warga yang terindikasi mengarah ke LSD. Dari puluhan sampel yang diambil di dua desa itu, hasilnya menyatakan tiga ekor sapi positif. “Dua sapi itu ada di Sumberklampok dan satu lagi ada di Desa Pejarakan,” jelasnya.

Baca juga:  Tujuh Kabupaten/kota Laporkan Tambahan Korban Jiwa COVID-19

Melandrat menyebut, pihaknya langsung turun ke lapangan untuk berkoordinasi dengan aparat desa setempat. Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah opsi lockdown aktivitas ternak di wilayah terdampak, terutama untuk membatasi distribusi, lalu lintas ternak, hingga aktivitas jual beli sapi.

“Hari ini kami turun memastikan boleh tidaknya dengan aparat desa dilakukan lockdown. Kami harus diskusi dengan masyarakat dan edukasi,” imbuhnya.

Selain pembatasan pergerakan ternak, Dinas Pertanian Buleleng juga masih berupaya menguatkan langkah penanganan melalui vaksinasi. Namun, pelaksanaan vaksinasi masih menunggu koordinasi dan dukungan ketersediaan vaksin dari Pemerintah Provinsi Bali. Meski demikian, tim vaksinasi disebut sudah disiapkan.

Baca juga:  Indonesia Targetkan 2035 Bebas TB

“Kita sudah siap. Ada tenaga dokter hewan sebanyak 27 orang. Ini masih koordinasi dengan provinsi terkait vaksin,” kata Melandrat.

Sebelumnya, dua ekor sapi milik warga Desa Sumberklampok diketahui terindikasi terserang LSD pada Senin (19/1). Menariknya, kedua sapi tersebut disebut dibeli pemiliknya melalui transaksi online lewat media sosial Facebook.

Menyusul temuan awal itu, Dinas Pertanian Buleleng kemudian meminta BBVet Denpasar melakukan pengambilan sampel terhadap 25 ekor sapi milik warga di Desa Sumberklampok pada Selasa (21/1).

Baca juga:  Libur Lebaran Usai, Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Naik dari Sehari Sebelumnya

Pengambilan sampel tersebut dilakukan sebagai langkah mitigasi dini untuk mencegah penyebaran virus LSD, mengingat Desa Sumberklampok memiliki populasi sapi yang cukup banyak dan sebagian dipelihara dengan sistem dilepasliarkan. (Nyoman Yudha/balipost)

 

BAGIKAN