
MANGUPURA, BALIPOST.com – Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Bali, I Wayan Suyasa akhirnya mau berterus terang terkait alasannya meninggalkan Golkar dan bergabung dengan PSI.
Politisi yang akrab disapa WS ini menegaskan, langkah politik tersebut murni didorong oleh kecintaan pribadinya kepada Presiden Joko Widodo serta rasa penghargaan politik yang ia rasakan di PSI.
Wayan Suyasa menegaskan, pengunduran dirinya dari partai sebelumnya dilakukan secara sadar, dewasa, dan tanpa konflik. Ia pun membantah keras anggapan bahwa perpindahan tersebut dilatarbelakangi ketersinggungan politik.
“Saya tidak akan pernah bicara ada ketersinggungan di tempat saya pernah berada. Di Golkar khususnya, saya punya apresiasi yang tinggi. Tidak ada hal negatif,” tegas Suyasa saat jumpa pers kesiapan Rakorwil dan Pelantikan Pengurus DPW, DPD, dan DPC PSI se-Bali, Kamis (22/1) dalam keterangan tertulisnya.
Ia mengakui, faktor utama yang menguatkan pilihannya bergabung dengan PSI adalah figur Presiden Jokowi yang telah lama ia kagumi, bahkan jauh sebelum dirinya terjun secara maksimal dalam politik praktis.
“Jujur dari lubuk hati yang terdalam, saya pribadi mengidolakan Pak Jokowi. Setiap orang pasti punya idola, dan itu hal yang jujur saya sampaikan,” ujar mantan Wakil Ketua DPRD Badung tersebut.
Menurut Suyasa, komunikasi dan dorongan dari jajaran pusat PSI yang ia nilai sebagai perpanjangan tangan Presiden Jokowi semakin memantapkan langkah politiknya.
“Ada perpanjangan tangan beliau yang berkomunikasi dengan saya. Dari situlah saya merasa terpanggil untuk menjalankan tugas politik ini, sebagai bentuk rasa cinta dan tanggung jawab saya kepada Pak Jokowi,” katanya.
Selain faktor ideologis, Suyasa juga menyoroti soal penghargaan terhadap peran dan eksistensi kader di PSI. Ia menegaskan, penghargaan yang dimaksud sama sekali bukan soal materi.
“Bukan soal harga atau uang. Tapi sebagai manusia, kita semua ingin dihargai. Dan di PSI, saya dan teman-teman merasakan penghargaan itu,” jelasnya.
Ia menambahkan, penghargaan tersebut justru menjadi beban moral sekaligus tanggung jawab besar untuk bekerja lebih serius dalam membesarkan PSI, khususnya di Bali.
Menutup pernyataannya, Politisi asal Desa Penarungan ini menegaskan bahwa PSI ke depan akan tetap berpolitik secara tegas dan berprinsip, serta tidak semata-mata mengandalkan kekuatan media sosial.
“Jangan kira PSI hanya soal media sosial. Kami keras dalam prinsip,” tegasnya. (kmb/balipost)










