Petugas melakukan pengambilan sampel di Desa Sumberklampok. (BP/Ist)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng melakukan pengambilan sampel terhadap 25 ekor sapi milik warga di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak. Langkah ini dilakukan menyusul ditemukannya dua ekor sapi warga yang terindikasi terserang penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

Pengambilan sampel tersebut dilakukan oleh Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar pada Selasa (21/1). Kegiatan ini merupakan bagian dari mitigasi dini guna mencegah potensi penyebaran virus LSD, mengingat Desa Sumberklampok merupakan salah satu wilayah dengan populasi sapi yang cukup banyak dan sebagian dipelihara dengan sistem dilepasliarkan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, dikonfirmasi Rabu (21/1), menjelaskan bahwa pengambilan sampel dilakukan secara merata, baik terhadap sapi yang menunjukkan gejala klinis LSD maupun sapi yang tampak sehat. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar penentuan langkah penanganan selanjutnya.

Baca juga:  Dari Bunuh Pacarnya yang Hamil hingga SPBU Ceningan Terbakar

“Hasil uji laboratorium saat ini masih kami tunggu. Pengambilan sampel ini dilakukan agar masyarakat tidak was was terhadap keberadaan virus LSD di wilayah mereka,” ujar Melandrat.

Terkait ketersediaan vaksin LSD, Melandrat mengakui saat ini Kabupaten Buleleng belum memiliki stok vaksin. Pasalnya, pendistribusian vaksin masih difokuskan di Kabupaten Jembrana. Meski demikian, pihaknya telah mengajukan permohonan vaksin kepada pemerintah pusat.

“Kami belum mendapatkan vaksin karena saat ini masih difokuskan di Kabupaten Jembrana. Namun kami sudah mengusulkan agar Buleleng juga mendapat alokasi,” imbuhnya.

Baca juga:  Mei, Penumpang Dilayani Bandara Ngurah Rai Tembus Sejuta

Ia menegaskan, apabila hasil uji laboratorium nantinya menyatakan adanya kasus positif LSD, maka vaksinasi akan segera dilakukan. Namun, vaksin hanya diberikan kepada sapi yang masih dalam kondisi sehat, bukan pada sapi yang telah terinfeksi.

“Kalau sudah ada kejadian, yang divaksin itu sapi sehat, bukan yang terkena. Vaksin LSD berbeda dengan vaksin PMK. Walaupun sama-sama disebabkan virus, jenis vaksinnya tidak sama,” tegasnya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, populasi sapi di Buleleng saat ini mencapai 69.076 ekor yang tersebar di sembilan kecamatan. Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan populasi sapi tertinggi, yakni sebanyak 23.539 ekor. Disusul Kecamatan Kubutambahan dengan 10.242 ekor dan Kecamatan Seririt sebanyak 7.783 ekor.

Baca juga:  Polisi Dilarang Bekingi Narkoba hingga Pergi ke THM

Seperti diberitakan sebelumnya, dua ekor sapi milik warga Desa Sumberklampok terindikasi terserang penyakit LSD. Kasus tersebut diketahui pada Senin (19/1). Menariknya, kedua sapi tersebut diketahui dibeli pemiliknya melalui transaksi online lewat media sosial Facebook.

Pemilik sapi bernama Somad, warga Banjar Dinas Tegal Bunder, Desa Sumberklampok. Ia memelihara dua ekor sapi dan keduanya menunjukkan gejala klinis LSD. Sapi-sapi tersebut dibeli sekitar satu bulan lalu dari penjual asal wilayah timur Bali. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN