
AMLAPURA, BALIPOST.com – Suara kulkul kembali menggema, bukan sekadar penanda waktu atau upacara adat, tetapi panggilan kebersamaan. Melalui Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu, Tim Penggerak PKK Karangasem mengajak masyarakat bangkit melawan sampah, penyakit, dan lunturnya semangat gotong royong. Gerakan yang diluncurkan serentak di seluruh Bali pada akhir 2025 di Art Center Denpasar itu berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan lingkungan dan kesehatan.
Ketua TP PKK Kabupaten Karangasem, Ny. Mas Parwata, menegaskan bahwa kulkul dipilih karena berakar kuat dalam budaya Bali. “Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu lahir dari keprihatinan kita terhadap persoalan sampah, kesehatan lingkungan, dan menurunnya partisipasi gotong royong. Kulkul dipilih karena sejak dulu menjadi alat pemanggil warga. Ketika kulkul berbunyi, semua tahu ada panggilan kebersamaan,” ujar Ny. Mas Parwata, pada Selasa (20/1).
Ny. Mas Parwata mengatakan, kulkul bukan sekadar bunyi, melainkan simbol panggilan nurani. Maknanya adalah kebersamaan. Ketika kulkul dibunyikan, itu artinya ada kerja bersama, ada tanggung jawab bersama.
“Ini adalah ajakan kembali pada nilai gotong royong, menjaga lingkungan, dan merawat kesehatan sebagai bagian dari yadnya kita kepada alam dan sesama,” katanya.
Menurut, Ny. Mas Parwata, kalau gerakan ini menyentuh dua sisi sekaligus kebersihan lingkungan dan penguatan layanan dasar kesehatan melalui Posyandu. Lingkungan yang bersih, kata Ny. Mas Parwata, menjadi fondasi kesehatan. “Dengan membersihkan selokan, halaman, dan fasilitas umum, kita mencegah sumber penyakit seperti DBD, diare, dan ISPA. Posyandu hadir memastikan ibu dan anak sehat. Jadi ini bukan hanya bersih-bersih, tapi investasi kesehatan,” jelasnya.
Dia menjelaskan, jika di lapangan, gerakan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat: ibu-ibu PKK, kader Posyandu, anak-anak, remaja, hingga para bapak. Ny. Mas Parwata turun langsung memotivasi warga. Karena turun langsung itu penting agar masyarakat merasa ditemani, bukan diperintah. Saya melihat semangat luar biasa. Kehadiran kita adalah pesan bahwa ini gerakan bersama, bukan hanya program di atas kertas.
“Momen paling berkesan baginya adalah saat warga memandang lingkungan yang telah bersih. Ada yang berkata, ‘Ternyata halaman rumah bisa seindah ini.’ Dari situ saya yakin, perubahan besar memang dimulai dari langkah kecil,” tuturnya. Prioritas pembersihan dimulai dari lingkungan terdekat, halaman rumah, selokan, jalan desa, pura, sekolah, hingga fasilitas umum. Tidak ada pengecualian. Jika setiap rumah bersih, desa akan bersih, dan Karangasem akan sehat,” tandanya.
Lebih lanjut dikatakannya, bahwa gerakan ini harus konsisten dan tidak berhenti sebagai seremonial. Maka daei itu, harus menjadi kebiasaan. Kulkul harus terus berbunyi, bukan hanya hari ini. Konsistensi adalah kunci agar benar-benar mengubah perilaku. Karena tantangan terbesar, menurutnya, adalah rasa jenuh dan anggapan bahwa ini hanya program sementara. Solusinya adalah memberi contoh, apresiasi bagi desa yang aktif, serta melibatkan semua unsur masyarakat.
“Jika semua merasa memiliki, gerakan ini akan hidup. Saya mengajak seluruh masyarakat: mari mulai dari diri sendiri, dari halaman rumah kita. Jangan menunggu orang lain. Ketika kulkul berbunyi, itu adalah panggilan untuk mencintai kehidupan. Jika kita menjaga lingkungan, lingkungan akan menjaga kita.”pungkasnya. (adv/balipost)










