Seorang peternak sapi membawa ternaknya di pasar hewan untuk dijual. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus penyakit Lumpy Skin Desease (LSD) pada sapi dan kerbau marak di Jembrana yang telah menyerang puluhan ternak. Sapi Bali yang disebut memiliki kualitas unggul akan terancam jika penyakit ini terus mewabah. Untuk itu perlu dilakukan penanganan yang lebih serius.

Menurut Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Gede Sedana saat diwawancarai, Selasa (20/1), sapi Bali memiliki peran penting bagi perekomomian Bali. Demikian permintaan dari luar Bali termasuk tinggi karena daging sapi Bali memiliki kualitas yang sangat baik. “Bahkan beberapa dekade lalu, sapi Bali menjadi komoditas ekspor,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Rektor Dwijendra University ini, usaha ternak sapi Bali merupakan sumber pendapatan bagi peternak dalam skala kecil dan menengah yang sekaligus sebagai wahana kesempatan kerja di perdesaan.

Baca juga:  Nyuri HP di Bar, WNA Ditangkap di Seminyak

Disisi lain Sapi Bali juga menjadi andalan pasar domestik, dan mendorong serta memperkuat usaha ekonomi lainnya. Seperti pemotongan ternak, pasar ternak sapi yang memberikan efek domino terhadap sektor usaha.

Dalam sektor pertanian, pengelolaan kotoran sapi dapat digunakan sebagai kompos dan pupuk organik selain sumber energi melalui pengolahaannya. Adanya serangan virus LSD dapat menjadi ancaman terhadap pertumbuhan populasi sapi dan berdampak pada penurunan potensi ekonomi keluarga peternak, pengusaha termasuk perekomomian lokal Bali.

LSD yang sudah masuk di Bali seperti di Jembrana, kata Gede Sedana, harus semakin diwaspadi karena tidak tertutup kemungkinan terjadi juga di kabupaten lainnya. “Gejala klinis secara umum penyakit LSD adalah demam sampai dengan 41 derajat C, tampak nodul-nodul pada kulit sapi yang berdiameter sampai 5 cm pada kulit, seperti di kepala, leher, kaki, perut, alat genitalia, dan bagian lainnya,” ujarnya.

Baca juga:  Ternak Sapi dalam Budaya Pertanian di Bali

LSD harus diisolasi agar penularannya dapat dicegah, sementara tindakan pengendalian dan pengobatan tetap dilakukan secara intensif. Secara sederhana bagi peternak untuk mengendalikan dan mengatasi LSD adalah melalui pengenalan tentang penyebarannya yang sangat dipengaruhi oleh vektor serangga pemakan darah, seperti nyamuk (Aedes aegypti), lalat, dan caplak.

Oleh karena itu, pengendalian yang dilakukan dapat berupa menjaga kondisi lingkungan untuk mencegah tumbuh berkembangnya vektor tersebut. “Secara alami, peternak dapat melakukan upaya penguatan imunitas ternaknya dengan cara memberikan pakan yang kaya nutrisi dan vitamin karena LSD bisa sembuh secara alami apabila imun ternak relatif kuat. Selain itu, diperlukan juga tindakan isolasi untuk mencegah penularan, misalnya dengan cara memisahkan sapi yang sakit dari sapi sehat,” terang Gede Sedana.

Baca juga:  Puluhan Sapi Terjangkit LSD, Enam Desa di Jembrana Di-lockdown

Selain itu, peternak juga harus menjaga kebersihan kandang dan memberikan cahaya matahari agar kandang tetap kering guna mengurangi vektor penyakit seperti lalat dan nyamuk. Penggunaan insektisida (kimia atau non kimia) juga diperlukan untuk mengendalikan dan membunuh vektor di sekitar kandang. Pengendalian agar dilakukan secara sinergi dan terintegrasi dengan pemerintah, seperti kegiatan konsultasi dokter hewan, vaksinasi, pengobatan luka dengan menggunakan salep atau antiseptik, pemberian multivitamin, obat penurun demam. (Widi Astuti/balipost)

 

BAGIKAN