Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE., M.Si. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kualitas sumber daya manusia (SDM) Provinsi Bali terus menunjukkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bali tahun 2025 tercatat mencapai 79,37, tumbuh 0,94 persen dibandingkan tahun 2024. Capaian tersebut menempatkan Bali sebagai salah satu provinsi dengan IPM tertinggi di Indonesia.

Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi Bali, Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, S.E., M.Si., di Denpasar menyampaikan, peningkatan IPM Bali didorong oleh perbaikan pada seluruh dimensi utama, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Pada dimensi kesehatan, angka harapan hidup masyarakat Bali meningkat dari 75,10 tahun pada 2024 menjadi 75,46 tahun pada 2025. Dimensi pengetahuan juga mengalami penguatan, tercermin dari rata-rata lama sekolah yang naik dari 9,54 tahun menjadi 9,75 tahun, serta harapan lama sekolah yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga:  IPM Bali Meningkat, Tertinggi di Kabupaten Ini

Sementara itu, pada dimensi ekonomi, pengeluaran riil per kapita masyarakat Bali meningkat dari Rp14,92 juta per tahun pada 2024 menjadi Rp15,38 juta per tahun pada 2025. “Dengan capaian tersebut, IPM Bali berada di atas rata-rata nasional sebesar 75,90 dan menempati peringkat kelima nasional setelah DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Timur,” katanya Rabu (14/1).

Memasuki tahun 2026, peningkatan kualitas SDM Bali masih memiliki ruang yang cukup besar. Murjana Yasa menjelaskan, penguatan diarahkan pada peningkatan kesetaraan gender, terutama pada akses pendidikan dan pengeluaran riil per kapita, seiring meningkatnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi. Selain itu, peningkatan angka partisipasi sekolah pada seluruh jenjang usia menjadi faktor penting dalam mendorong kenaikan rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah.

Dari sisi demografi, Bali masih berada dalam fase bonus demografi, ditandai dengan proporsi penduduk usia produktif (15–64 tahun) yang mencapai lebih dari 70 persen, serta angka ketergantungan yang masih di bawah 50. Kondisi ini diproyeksikan berlangsung hingga sekitar 2033, sebelum proporsi penduduk lanjut usia meningkat lebih signifikan.

Baca juga:  Buleleng Janji Naikkan Bonus Atlet Porprov 2025

Momentum peningkatan kualitas SDM juga tercermin pada kondisi ketenagakerjaan. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Bali menurun dari 1,79 persen pada 2024 menjadi 1,49 persen pada 2025, terendah secara nasional, dengan jumlah penganggur sekitar 40 ribu orang.

Meski demikian, Murjana Yasa mencatat masih terdapat tantangan struktural di pasar kerja Bali. Kesenjangan keterampilan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja masih relatif tinggi.

Selain itu, produktivitas tenaga kerja Bali dinilai belum optimal dibandingkan sejumlah provinsi lain, termasuk di sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah, khususnya pada subsektor penyediaan makan dan minum.

Baca juga:  Kisruh KDH Bross Singaraja Berakhir, Ini Solusinya

Untuk menjawab tantangan tersebut, penguatan program peningkatan dan pembaruan keterampilan tenaga kerja dinilai penting, baik melalui upskilling maupun reskilling. Pembenahan sistem pendidikan dan pelatihan vokasi juga menjadi perhatian, mengingat sebagian pengangguran di Bali justru berasal dari lulusan pendidikan kejuruan dan diploma.

Di luar pasar kerja domestik, SDM Bali juga memiliki peluang besar di pasar kerja internasional, terutama pada sektor pariwisata formal. Sepanjang tahun 2025, tercatat 5.631 anak muda Bali bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Tren ini diperkirakan terus meningkat seiring dengan kebutuhan tenaga kerja pariwisata global, sehingga memerlukan kesiapan kompetensi serta penguatan koordinasi antar lembaga terkait,” imbuhnya. (Suardika/bisnisbali)

BAGIKAN