
DENPASAR, BALIPOST.com – Di Indonesia kanker prostat menduduki posisi kelima di semua keganasan kanker pada pria. Kebanyakan atau 50 persen lebih terindikasi ketika stadium lanjut yang menyulitkan dalam pengobatan. Demikian diungkapkan oleh Spesialis Bedah Urologi RSUP Prof IGNG Ngoerah, dr. I Wayan Yudiana, Sp.U.(K) Jumat (10/10).
Ia menuturkan jika deteksi kanker ini ditemukan pada stadium 4 atau sudah menyebar, pengobatan yang dibutuhkan lebih banyak. Mulai dari terapi dengan kemoterapi dan terapi hormonal serta pengobatan yang menggunakan banyak disiplin ilmu.
“Jadi jika banyak dokter, banyak penanganan maka banyak biaya juga yang dikeluarkan. Sementara kanker prostat stadium 4 ada yang tidak bisa menggunakan BPJS. Dan stadium lanjut ini pun bisa menurunkan kualitas hidup,” katanya.
Ia mengatakan ada beberapa faktor risiko yang memicu kanker prostat. Di antaranya usia kebanyakan di atas 65 tahun, ras Afrika dan Amerika, riwayat keluarga pernah terkena kanker prostat pada ayah atau kanker lainnya pada ibu.
Kemudian ada pula faktor lainnya seperti pola makan (diet), merokok, konsumsi daging merah berlebih dan sebagainya termasuk berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual.
Terkait gelaja, kata dia pada stadium awal banyak yang tidak memiliki gejala. Namun ada beberapa gejala yang nampak seperti kencing terputus-putus, nyeri saat kencing, sering kencing pada malam hari hingga impotensi. Jika kanker prostat sudah menyebar ada gejala lain yang mungkin dirasakan seperti nyeri tulang, patah tulang dan penyebaran ke saraf tulang belakang.
Untuk itu menurutnya penting bagi masyarakat terutama yang memiliki risiko untuk melakukan pemeriksaan sejak dini atau skrining awal. Pemeriksaan kanker prostat saat ini telah memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI yang mendorong hasil pemeriksaan lebih akurat yaitu dengan metode biopsi robotik.
Biopsi ini menjadi teknologi baru yang dikembangkan di RS Prof Ngoerah yang hingga saat ini baru 5 pasien yang ditanangi. Biopsi robotik ini, kata dr. Yudana, mengabungkan metode USG dengan MRI sehingga keberadaan lesi (jaringan yang tidak biasa) bisa ditemukan lebih mudah.
“Karena lesi ini kan sangat kecil, bisa saja dengan biopsi transrektal (memasukan jarum biopsi ke dinding rektrum/dubur) atau biopsi transperineal (memasukan jarum lewat kulit antara skrotum dan anus) lesi tidak ditemukan,” katanya.
Sementara itu, Konsultan Onkologi Urologi RSCM (Jakarta) Prof. dr. Agus Rizal Hamid menambahkan, di Jakarta sendiri sudah cukup banyak memanfaatkan teknologi ini. Dan bahkan dengan penggunaan biopsi robotik ini volume kanker yang ditemukan semakin kecil dan usia penderita juga semakin muda.
Hal ini karena menunjukan jika diteksi bisa lebih ditemukan pada stadium awal. “Dengan penggunaan robot ini lesi yang kecil sekalipun bisa kita temukan,” ungkapnya. (Widiastuti/bisnisbali)







