Pelaksanaan nedunang Ida Bhatara serangkaian Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, Sabtu (4/4). (BP/eka)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Serangkaian Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, digelar ritual nedunang Ida Bhatara ke Pesamuhan Agung, Sabtu (4/4). Karena saat ini merebak wabah COVID-19, kegiatan ini dilaksanakan sedikit berbeda.

Hanya krama Desa Adat Besakih yang terlibat. Tahun ini pun, pralingga Ida Bhatara tidak melasti atau masucian ke Tegal Suci

Kegiatan akan berlanjut ke upacara melasti/ngubeng serangkaian Tawur Tabuh Gentuh dan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih. Ritual akan dilaksanakan pada Minggu (5/4)

Ketua Panitia IBTK Jro Mangku Widiartha, mengungkapkan, pelaksanaan upacara nedunang pralingga ida bhatara ini, tidak melibatkan orang banyak sesuai dengan himbauan dari pemerintah di tengah pandemi COVID-19. Kata dia, nedunang pralingga ida bhatara ke Pesamuhan Agung hanya diikuti oleh krama Desa Adat Besakih yang jumlahnya terbatas.

“Pralingga yang pertama kali memargi (berjalan) adalah pralingga ida bhatara lingsir Pura Penataran Agung. Setelah itu, baru diikuti oleh pralingga ida bhatara yang lainnya dari pemaksaan masing-masing. Tujuan dari nedunang ida batara ini sebagai simbol bahwa ida batara kabeh sudah turun atau berkumpul di pesamuan. Sebelum nedungan pralingga, lebih dulu dilakukan upacara sembahyang bersama,” ujarnya.

Baca juga:  Gubernur Koster : Teluk Benoa Itu Tidak Bisa Direklamasi

Widiartha menambahkan, saat nedunang pralingga ida bhatara menuju kepesamuan Agung, umat yang mundut pralingga jumlahnya terbatas. Begitu juga, jarak krama yang mundut pralingga diatur sedemikian rupa. “Jarak kita atur, sesuai dengan instruksi pemerintah. Kita terapkan physical distancing,” katanya.

Dia menjelaskan, menindaklanjuti himbauan pemerintah, bagi umat yang hendak melakukan persembahyangan ke Pura Agung Besakih, agar membatasi diri maksimal 25 orang. Dan mengacu pada physical distancing, agar umat mengatur jarak terutama saat hendak melakukan pemuspaan.

“Bagi krama yang tangkil melakukan persembahyangan, sebelum memasuki utama mandala, pemedek diminta untuk melakukan cuci tangan dengan cairan hand sanitizer pada tempat yang sudah disediakan,” tegas Widiartha. (Eka Parananda/balipost)