Spanduk yang dipasang warga di salah satu titik Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan. (BP/ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejumlah tempat yang rencananya dijadikan lokasi karantina orang dalam pemantauan (ODP) COVID-19 menuai penolakan dari warga. Contohnya di Desa Samsam yang memasang sejumlah spanduk penolakan daerahnya dijadikan lokasi karantina ODP COVID-19.

Kondisi ini pun menimbulkan reaksi dari Ketua Satgas Penanggulangan COVID-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra, Kamis (2/4). Ia menegaskan bila karantina bukanlah tempat untuk pekerja migran (termasuk pekerja kapal pesiar) yang sakit.

Tapi, untuk menampung sementara para pekerja migran sambil menunggu tes. “Para pekerja kapal pesiar ini adalah anak-anak kita semuanya. Mereka adalah orang-orang yang mencari pekerjaan di luar karena kita tidak menyediakan lapangan kerja yang cukup kepada mereka,” ujarnya.

Menurut Dewa Indra, kalau saja pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten/kota bisa menyediakan lapangan kerja yang cukup dengan penghasilan yang cukup, mereka tentu tidak akan mencari kerja ke luar negeri dengan meninggalkan orangtua dan keluarga. Para pekerja migran itu disebut sebagai orang-orang yang ulet dan tangguh, bahkan oleh pemerintah dijuluki pahlawan devisa.

Mereka juga adalah penopang ekonomi keluarga, yang juga mengambil inisiatif untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat Bali dengan bekerja di luar negeri.

“Selama ini mereka dibanggakan oleh keluarganya, oleh para orangtua bahkan oleh orang kampung karena mereka bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Tetapi hari ini ketika COVID-19 ada sebagian warga masyarakat kita yang kurang menerima dengan baik anak-anak ini,” katanya.

Baca juga:  Tunggu Hasil Lab, Pasien Rusia Masih Jalani Pengawasan COVID-19 di BRSU Tabanan

Seharusnya, lanjut Dewa Indra, masyarakat dengan penuh kesadaran nurani menyambut para pekerja migran dengan baik. Apalagi, mereka pulang dengan kondisi kehilangan pekerjaan sehingga bisa dipastikan daya topang mereka kepada keluarga juga hilang. “Mereka bukan penyakit, mereka juga bukan pembawa penyakit. Seharusnya masyarakat kita memahami. Sesungguhnya saya sangat menyesalkan sikap oknum-oknum yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendiri,” tegasnya.

Namun demikian, Dewa Indra mengaku tidak menyalahkan masyarakat sepenuhnya. Sebab, oknum-oknum yang menolak dikatakan belum mendapatkan pemahaman yang baik dan utuh tentang COVID-19.

Pekerja migran sesungguhnya tidak perlu ditakuti karena hasil tes, baik yang dilakukan di Bandara Ngurah Rai maupun di tempat karantina hampir semuanya negatif. Hanya 1-2 orang saja yang positif. “Karantina itu adalah tempat untuk menampung anak-anak kita sementara sambil menunggu tes. Tempat karantina itu juga tidak memungkinkan untuk tempat penyebaran penyakit, karena COVID-19 tidak menular melalui udara, tapi droplet,” tandasnya. (Rindra Devita/balipost)