Ilustrasi. (BP/Tomik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Mitigasi ketenagakerjaan saat bencana perlu dipersiapkan agar angka pengangguran di Bali tidak meningkat signifikan pascabencana. Berdasarkan data BPS, pada Februari 2019, tenaga kerja yang bekerja di lapangan usaha akomodasi, makan dan minum (akmamin) yang langsung bersentuhan dengan wisatawan adalah 12,91 persen. Angka ini cukup tinggi jika terjadi sesuatu dengan pariwisata Bali.

Kepala Pusat Penelitian Kependudukan dan Pengembangan SDM Unud Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE.,M.Si., Rabu (11/3), mengatakan Bali telah beberapa kali mengalami bencana yang menyebabkan penopang ekonomi Bali yaitu pariwisata anjlok. Dampaknya dirasakan oleh tenaga kerja yang bekerja di bidang pariwisata dan sektor turunan dari pariwisata.

Pariwisata merupakan leading sector dalam perekonomian Bali. Pengembangan sektor ini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan devisa, pasar potensial produk barang dan jasa, kesempatan kerja, sumber pendapatan asli daerah (PAD). Tak dipungkiri, pengembangan sektor ini juga merangsang kreativitas para penekun seni.

Baca juga:  Pariwisata Bali Tanpa Mafia Tiongkok

Namun di sisi lain, bidang pariwisata cukup rentan terhadap berbagai isu baik internal maupun eksternal. “Kita dapat berkaca dari isu internal seperti meletusnya Gunung Agung, isu eksternal seperti SARS, dan yang kini berkembang Covid-19. Isu terakhir ini dampaknya sudah terasa, kelesuan pada sektor pariwisata. Dampak ikutannya adalah pada kesempatan dan potensi peluang kerja yang dampak lanjutannya pada kemungkinan terkoreksinya pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Belajar dari berbagai pengalaman ini, mitigasi bencana ketenagakerjaan perlu dipersiapkan. Jaring pengaman yang memungkinkan karyawan setidaknya merasa aman ketika mereka terpaksa untuk sementara dirumahkan.

Selain itu, tenaga kerja juga perlu dikembangkan kreativitas kerjanya yang tidak hanya bergantung dari satu sumber pendapatan, sehingga ada alternatif sumber pendapatan ketika terjadi bencana. (Citta Maya/balipost)