Penurunan jumlah kunjungan wisatawan terjadi hampir disemua obyek wisata di Bali, termasuk di Sanur. Nampak deretan kursi pantai yang kosong di Sanur, Denpasar, Rabu (11/3). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pukulan bertubi-tubi dialami ekonomi Bali. Belum pulih sepenuhnya akibat pelemahan ekonomi global dan erupsi Gunung Agung, kini virus Corona menghantam lebih keras.

Pariwisata sebagai sektor andalan Bali kemungkinan akan terpuruk. Ekonomi Bali berada di ambang krisis, bahkan jika tak dilakukan penyelamatan segera maka akan menjelma menjadi resesi.

Pengamat ekonomi, Viragoena Bagoes Oka mengatakan, kondisi ekonomi Bali akibat dampak virus Corona akan semakin terpuruk. Sebelum datang virus Corona, ekonomi nasional dan juga Bali juga belum sepenuhnya pulih akibat pengaruh situasi nasional dan global. “Saya mengistilahkan kondisi ekonomi berada dalam kondisi TUA, yakni turbulensi, unpredictable dan ambigu,” jelas Viragoena.

Indikatornya adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi, tidak tercapai sesuai target. Dalam konteks Bali, Viragoena mencontohkan bagaimana pertumbuhan ekonomi Bali yang tidak mampu bergerak hingga angka 6 persen seperti saat pariwisata normal. “Virus Corona menjadi pukulan tambahan bagi ekonomi Bali karena terpuruknya pariwisata,” tegas Viragoena, Selasa (10/3).

Ekonomi Bali mengalami krisis bahkan jika tak dilakukan penyelamatan terancam berada di titik resesi. Dampak yang paling nyata dari krisis adalah keringnya likuiditas sektor perbankan.

Salah satunya akibat naiknya kredit bermasalah atau non performance loan (NPL). Ini berarti perbankan yang selama ini menjadi pendukung utama roda ekonomi berada dalam kesulitan.

Baca juga:  Peringatan Bom Bali ke-16, Trauma Belum Hilang

Kebijakan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia tidak menjamin sektor swasta memberi respons positif karena kondisi ekonomi yang semakin lesu. Untuk menjaga likuiditas perbankan, pemerintah pusat perlu memikirkan kebijakan penyiapan dana bantuan likuditas. “Ini akan menjadi blanket guaranty bagi dunia perbankan,” jelas Viragoena.

Ketua Kadin Bali Made Ariandi mengakui, saat ini kondisi para pengusaha Bali khususnya di sektor pariwisata sudah mulai merintih. Penurunan jumlah wisatawan mancanegara ke Bali telah dirasakan dampaknya.

Untuk itu kebijakan membantu pengusaha terutama dalam hal kewajiban kredit perbankan akan sangat membantu. Misalnya dengan kebijakan penjadwalan ulang pembayaran kewajiban. “Ini akan dapat membantu pengusaha menghadapi kondisi krisis,” kata Ariandi.

Ketua DPD Prajaniti Bali dr. Wayan Sayoga mengatakan kondisi ekonomi Bali akibat dampak virus Corona menjadi pelajaran untuk seluruh komponen di Bali. Pariwisata selama ini mungkin sudah cenderung serakah, sehingga kalaupun harus tiarap sementara waktu, akan ada baiknya bagi Bali.

Menurut Sayoga, ketergantungan ekonomi Bali terhadap pariwisata harus dihentikan dengan mencari alternatif lainnya. “Saatnya untuk benar-benar memikirkan alternatif selain pariwisata,” tegasnya. (Nyoman Winata/balipost)