Para petani di Banjarangkan saat memulai bercocok tanam. (BP/gik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kisah manusia Bali mulai tertarik mengejar dolar dari pariwisata disinggung dalam novel Diana Darling, “A Painted Alphabet”. Adrian Vickers yang menukil cerita Diana Darling menyangkut pariwisata tersebut memberi judul “Pijar Pariwisata” dan menjadi salah satu tulisan dalam buku “Bali Tempo Doeloe”.

Dengan gaya menyindir, Diana Darling, melukiskan betapa gagapnya manusia Bali ketika dihadapkan pada hal baru bernama industri pariwisata. Kegagapan yang kemudian menjadikan manusia Bali hanya sebagai figuran ketika industri pariwisata menjadi mesin raksasa penghasil uang bagi ekonomi Bali.

Manusia Bali hanya mendapat remahan kue. Sementara investor dan pemerintah pusat melahap nyaris keseluruhan bagian kue pariwisata.

Bali cukup terhibur dari pungutan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) dan tersedianya lapangan kerja yang lambat laun mulai direbut kaum imigran. Kini pijar pariwisata Bali kembali meredup akibat wabah Virus Corona.

Dalam jangka pendek, nampak segala upaya akan dikerahkan untuk menjaga nyala terang pijar pariwisata. Salah satunya dengan menggelontorkan dana hampir Rp 10 triliun. Tujuannya adalah menarik minat wisatawan asing berkunjung ke Indonesia khususnya Bali.

Baca juga:  Istana Apresiasi Penangkapan "Saracen"

Namun, setelah berkali-kali pijar pariwisata meredup, harusnya Bali segera berani mengambil sikap tegas, menepikan pariwisata. Ini berarti segera lakukan upaya serius mencari keseimbangan antara pariwisata dengan sektor lainnya agar jangan pariwisata seakan-akan segala-galanya.

Ada banyak potensi yang dapat digarap. Dan lagi-lagi satu hal ini harus disebut yakni pertanian.

Pertama karena Bali memang selama berabad-abad memiliki kemampuan bertani yang andal. Kedua, karena pertanian tidak hanya ekonomi tetapi juga budaya dan aspek spiritual. Ketiga, berdasarkan data, pekerjaan masyarakat Bali secara statistik adalah petani dalam arti luas.

Intinya, untuk mencapai titik keseimbangan baru bagi Bali dalam sektor penggerak ekonomi, maka pijar pertanian harus kembali dinyalakan. Terangnya agar lebih dari pariwisata atau setidak-tidaknya sama. (Nyoman Winata/balipost)

Ulasan lengkap tentang tulisan ini dapat dibaca di Harian Bali Post, Senin 3 Maret 2020.