Ilustrasi. (BP/Tomik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pariwisata Bali telah dimulai sejak abad ke-19. Namun perkembangan pesat terjadi ketika memasuki akhir tahun 90-an. Artinya, Bali pernah sangat lama tidak tergantung dari sektor pariwisata.

Jejak tanpa pariwisata mestinya dapat menjadikan manusia Bali tangguh, tidak cengeng terutama saat-saat dimana pariwisata tak lagi berpijar terang. Sejarah pariwisata Bali secara komersial dapat di jejak mulai tahun 1920-an.

Di era pemerintahan kolonial Belanda, Bali telah dijual kepada calon wisatawan dengan slogan “Bali, The Island of Paradise.” Keunikan budaya Bali dengan tradisi yang masih tersisa dari masa lampau, dijadikan andalan jualan.

Bahkan pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan mengisolasi Bali, dengan program Baliseering atau Balinisasi, demi terjaga keunikan budayanya dan dapat tetap dijual demi pariwisata. Masa awal kemerdekaan, Presiden Soekarno menjadikan bandara di Tuban sebagai bandara internasional di tahun 1969 dan membangun Hotel Bali Beach di Sanur tahun 1966.

Namun pariwisata tak berkembang karena terjadinya peristiwa pemberontakan PKI. Saat pemerintahan Orde Baru berkuasa, disusunlah rancangan besar mengembangkan pariwisata Bali.

Di tahun 1973 dibangun Bali Tourism Development Centre (BTDC) di Nusa Dua sebagai pusat akomodasi kelas dunia. Kunjungan wisatawan ke Bali pun meningkat hingga di angka 600 ribuan. Namun pariwisata belumlah menjadi pusat kekuatan ekonomi Bali.

Hingga era awal 1990-an, pariwisata belum menjadi penggerak utama ekonomi Bali,  sehingga menjadikan sektor pertanian sebagai panglima. Hal ini juga seiring dengan kebijakan pemerintah Orde Baru dalam program swasembada pangan.

Baca juga:  Antisipasi Penyelundupan, Ini yang Dilakukan Bea Cukai

Alih fungsi lahan pertanian pun tidak terlalu massif. Ekonomi warga Bali yang lebih banyak hidup di desa-desa banyak ditopang dari hasil pertanian. Wisatawan ke desa-desa hanya untuk berwisata karena untuk menginap disediakan hotel di kawasan Nusa Dua, Kuta dan Sanur.

Desa belum tersentuh langsung investasi pariwisata sehingga eksotisme budaya bali pun tetap terjaga. Memasuki akhir tahun 1990-an, investasi pembangunan akomodasi pariwisata seperti hotel, villa,spa dan restoran mulai menyerbu Bali dengan ganas.

Gemerincing dolar juga menarik imigran masuk berduyun-duyun ke kawasan Bali Selatan. Tanah-tanah sawah di Bali selatan mulai beralih fungsi secara massif, menjadi permukiman dan akomodasi pariwisata.

Sementara sawah di daerah lain ditinggalkan generasi mudanya untuk bekerja di pariwisata. Akibatnya, manusia Bali mulai meninggalkan dan lupa dengan kehidupan pertanian.

Tidak ada istilah terlambat untuk kembali ke pertanian. Masih ada tanah luas yang tersedia untuk digarap.

Dari 563.132 hektar tanah di Bali, sekitar 28 persen adalah nonpertanian. Ini berarti hampir 72 persen tanah di Bali masih dapat digarap untuk pertanian.

Hanya saja dibutuhkan kemauan keras. Asal tidak cengeng, Bali akan baik-baik saja tanpa pariwisata. (Nyoman Winata/balipost)

Ulasan mengenai Bali Jangan Cengeng dapat dibaca di Harian Bali Post, Jumat, 28  Februari 2020.