Komunitas penggiat biodinamik Bali menanam beberapa jenis bibit sayuran di lahan pertanian Pesaraman Lumajang, Samsam, Kerambitan, Tabanan, Minggu (9/2). (BP/eka)

TABANAN, BALIPOST.com – Pertanian biodinamik mulai diujicobakan di Bali. Sistem pertanian ini dinilai memiliki keunggulan dari pertanian organik.

Sebab, dalam berproduksi sepenuhnya memanfaatkan unsur-unsur biologis atau kehidupan sebagai pendorongnya. Tidak hanya tanpa menggunakan bahan kimia seperti yang diterapkan pada pertanian organik, sistem ini juga memberdayakan organisme hidup sebagai bagian produksi tani.

Hal inilah yang membuat sistem biodinamik sering disebut dengan pertanian organik plus. Metode pertanian biodinamik tidak hanya memperhatikan unsur-unsur yang terkandung didalam tanah saja, namun juga unsur-unsur alam atau energi kosmik di alam ini yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

Menurut Ketua komonitas penggiat biodinamik Bali, dr Ida Bagus Kesnawa usai penanaman beberapa jenis bibit sayuran di Kerambitan, Tabanan,  Minggu (9/2), metode pertanian ini pada dasarnya memakai potensi material alam yang ada. Dan untuk di Bali sendiri, material yang diperlukan untuk biodinamik sangat mudah didapatkan.

“Ini sebuah konsep metode yang luar biasa, yang tentunya tidak hanya membuat sehat atau keseimbangan ekosistem yang baik, tapi juga membuat pertanian menjadi murah,” papar Kesnawa.

Baca juga:  NTP Bali Terus Turun, Ini Subsektornya

Dengan metode biodinamik ini diharapkan, kedepannya banyak anak-anak muda tertarik dan terjun ke dunia pertanian. Metode ini dapat menekan masalah petani terkait biaya untuk berproduksi.

Dengan biaya yang lebih murah, diharapkan nantinya semua orang tertarik kembali untuk bertani. Untuk pengembangan ini, komunitas penggiat biodinamik yang terdiri dari akademisi, penggiat, dan pelaku pertanian bekerjasama dengan Yayasan Dharma Naradha (YDN) membuat sebuah BD (Biodynamic) Center di Pesraman Lumajang, Samsam, Kerambitan, Tabanan. Tujuannya sebagai pusat pengembangan, diskusi dan belajar sistem pertanian biodinamik.

Sementara itu, akademis Unud I Dewa Gede Raka menjelaskan bahwa pertanian biodinamik bukanlah metode yang baru. Metode ini telah lama ada dan banyak negara yang menerapkannya.

Penggunaan metode ini diharapkan mampu mengurangi biaya dalam pertanian, sehingga dapat meningkatkan daya saing yang lebih tinggi. Karena, selain secara kuantitas yang lebih memungkinkan, juga ada upaya untuk peningkatan kualitas produk pertanian itu sendiri. (Eka Adhiyasa/balipost)