Mencermati tulisan Koran Bali Post edisi 26 Januari 2020 dengan judul ‘’Pariwisata Bali Bersiap Memasuki Masa Jeda’’, hal ini berhubungan terinfeksinya negara Tiongkok sebagai pemasok wisatawan hampir 26,7%, setara 1,29 juta orang. Di samping itu ada 12 negara lainnya juga telah terindentifikasi terinfeksi virus Corona, sehingga sinyalemen yang ditulis Bali Post hampir menjadi kenyataan.

Peluang terjadinya masa jeda pariwisata Bali berpotensi terjadi. Sebagai warga Bali, meskipun merantau di luar Bali ingin memberikan sumbang saran atas solusi maupun bagaimana pencegahan terhadap masalah yang diuraikan Bali Post.

Saya ingin memberikan sumbang saran sebagai berikut: (1) Semua komponen pariwisata Bali harus bekerja sama dalam memberikan pelayanan terbaiknya agar pariwisata Bali bisa terus berlanjut dan terhindar dari masa jeda. Misalnya PHRI, meminta agar rate hotel pada hari libur diberikan harga promo, transportasi lokal, pedagang valuta asing, biaya-biaya tempat objek wisata, pemandu wisata, artshop, pedagang acung dan lain-lainnya, ditata dengan intensif, sehingga semuanya merasa ikut berpartisipasi secara masif dengan beroperasi tetap mencari untung tetapi dengan persentase yang lebih kecil dari biasanya.

(2) Diperlukan lobi khusus dari Gubernur Bali untuk membicarakan masalah ini dengan stakeholders pariwisata yang ada di Jakarta, termasuk Presiden, Menteri Pariwisata,  Menteri Perhubungan, Menteri Pendidikan dan lain-lainnya. (3) Presiden diharapkan menghidupkan kembali kebijaksanaan yang dilakukan presiden sebelumnya yaitu menata hari libur nasional sehingga Jumat, Sabtu, Minggu menjadi hari pariwisata (liburan). Ini untuk meningkatkan wisata domestik berkunjung ke Bali.

(4) Menteri Pariwisata bekerja sama dengan kedutaan negara kita yang di luar negeri, yang negaranya tidak terinfeksi virus Corona mengintensifkan promosi pariwisata Indonesia. (5) Menteri Perhubungan agar mendiskusikan dan meminta seluruh pemangku transportasi baik udara, laut, darat untuk memberlakukan biaya transportasi promo pada hari libur (Jumat, Sabtu, Minggu).

(6) Menteri Pendidikan untuk  mengimbau sekolah-sekolah mengadakan study tour sambil melakukan karya ilmiah tentang tempat pariwisata yang dikunjunginya. (7) Para jurnalis dan pemimpin redaksi media baik cetak maupun online ikut terus mewartakan keunggulan pariwisata Bali, dan memberikan alasannya yang valid dan menarik mengapa para wisatawan perlu wisata ke Bali. (8) Di samping aparat, seluruh masyarakat Bali harus peduli dan ikut menjaga keamanan, kenyamanan, terhadap kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Demikianlah sumbang saran yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat.

Dr. A.A. Ketut Diatmika, S.E., M.M.

Pegiat Sosial, dosen universitas swasta tinggal di Jakarta.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.