DENPASAR, BALIPOST.com – Hampir semua remaja memiliki sosial media (sosmed) baik Instagram, Facebook, YouTube, Twitter, dan lainnya. Sosial media dapat memberi dampak positif dan negatif.

Sebuah lembaga sosial yang bergerak untuk remaja, Kita Sayang Remaja (Kisara) pernah melakukan survei terhadap 700 remaja di Bali. Hasilnya, 97 persen remaja melakukan aktivitas berbagi foto dengan memanfaatkan sosmed.

Dari 97 persen itu, 2 persen remaja berbagi foto yang vulgar, bugil atau tanpa busana. Aktivitas itu pun dilakukan secara sadar.

Koordinator Klinik Remaja Kisara PKBI dr. I Gusti Ngurah Pramesemara, S.Ked., M.Biomed., belum lama ini mengungkapkan hal itu. Ia menegaskan aktivitas itu dilakukan secara sadar oleh remaja.

Sebesar 30 persen foto itu dibagi ke teman-teman di grupnya. Sisanya dibagi ke pasangannya, baik pacar dan partner seksualnya.

Dari 700 remaja tersebut, 20-30 persen remaja pernah mendengar atau mengetahui temannya berbagi foto vulgar. “Tapi kalau ditanya tadi hanya 2 persen yang melakukan aktivitas berbagi foto vulgar, tapi yang mengetahui temannya berbagi foto vulgar 20-30 persen,” ujarnya.

Sedangkan untuk video, 46 persen dari 700 remaja, sudah mengakses dan berbagi video porno. Sebagian ada yang mendapatkannya lewat WhatsApp Grup, sebagian besar mengaksesnya di Twitter.

“Twitter itu kan mungkin karena bisa berbagi link. Pemerintah kita juga tidak bisa mengintervensi Twitter, kalau yang lain agreementnya sudah ada. Tapi Twitter engga mau, mereka mau tetap free, basenya tetap di Amerika sana, tidak mau di Indonesia,” ungkapnya.

Baca juga:  Anak Tiga Bersaudara Ini Kini Bergantung Hidup dari Kerabat Ayahnya

Bahkan menurutnya source paling besar untuk mendapat link atau akses video porno adalah di Twitter, sesuai pengakuan remaja. Sementara YouTube, Facebook, Instagram sudah ada system sensor sehingga konten berbau pornografi akan langsung terblokir.

Sebesar 20 persen dari 46 persen remaja yang mengakses video porno, membaginya ke teman mereka. Hal lain yang terungkap dari survey itu adalah penggunaan sosial media oleh remaja rata-rata adalah 2-3 jam per hari.

Fenomena yang terjadi pada remaja memanfaatkan sosmed tidak hanya sekedar berbagi video maupun foto. Mereka juga mengikuti tren influencer. “Permasalahannya tidak semua influencer itu baik, tidak semua positif, mengajarkan remaja yang bagus. Mereka seolah-olah membentuk image remaja atau kehidupan yang sekarang seperti yang mereka (influencer) punya padahal tidak semua remaja bisa mengikuti hal tersebut,” bebernya.

Remaja yang terpapar video yang tidak jelas, mengeluhkan kondisi seksual mereka. “Kita tidak pungkiri, remaja kita sudah terpapar video-video porno sehingga membanding-bandingkan dengan dirinya,” katanya.

Secara tidak langsung, remaja yang tidak bisa memilah dengan baik dan memahami dengan baik fungsi sosial media akan membuat mereka tidak percaya diri. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.