Salah satu bangunan yang berisi colek pamor di wilayah Karangasem. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Fenomena colek pamor kembali menghebohkan warga Desa Besakih, Rendang, Karangasem. Terdapat tanda colek pamor pada sejumlah palinggih di Pura Dadia Merajan Kanginan.

Menurut sejumlah Pandita, fenomena colek pamor merupakan peringatan bagi umat manusia untuk mulat sarira atau introspeksi diri. Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Agni Yogananda dari Geriya Santabana Dusun Payuk, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli, mengatakan pamor merupakan niyasa kekuatan Siwa Rudra Mahadewa sebagai tanda kepada bakta-Nya yang secara langsung diberikan dalam proteksi-Nya.

Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Agni Yogananda. (BP/Istimewa)

Biasanya, fenomena colek pamor terjadi di tempat-tempat yang warganya lebih damai dalam kesehariannya. Oleh karena itu, fenomena ini harus disikapi sebagai anugerah. Masyarakat agar tidak terlalu mengkhawatirkan fenomena colek pamor di palinggih-palinggih ini.

Yang lebih penting, bagaimana ke depannya berbenah dan peduli terhadap lingkungan sekitar, tidak merusak alam, menjaga hubungan harmonis antar sesama, dan tetap eling kepada Tuhan. “Jangan gaduh atau berspekulasi secara berlebihan. Tingkatkan kepedulian kepada sesama, lingkungan dan sradha bakti. Selamatkan Bali dari hal-hal yang tidak sukla,” ujar Ida Pandita, Kamis (9/1).

Baca juga:  Target Transaksi Rp 19 M dan 15 Ribu Pengunjung

Sementara itu, Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmita dari Geriya Agung Sukawati menjelaskan, fenomena colek pamor merupakan fenomena alam yang dibuat oleh alam. Fenomena ini tidak ada tercantum dalam sastra.

Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmita. (BP/Istimewa)

Sebab, fenomena colek pamor ini tidak sama dengan proses colek pamor saat upacara pamelaspas atau ngurip-urip bangunan baru. “Tapi Hyang Brahman personifikasinya setiap saat bisa saja datang tanpa diketahui dan bisa mengada dalam bentuk apapun, bisa colek pamor. Fenomena ini pertanda baik dan tetap berpikir positif, hukum alam tarik menarik, maknai saja dengan keberkahan positif, karena fenomena ini tidak buruk,” ungkapnya. (Winatha/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.