Seorang petugas PDAM Denpasar melakukan perawatan di Instalasi Pengolahan Air Waribang. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Wilayah Kota Denpasar dan sekitarnya diguyur hujan pada Sabtu (2/11) malam. Hujan pertama atau baru sekali turun pada pertengahan tahun ini, berdampak pada pelayanan Perumda Air Minum Tirta Sewaka Dharma (PDAM) Denpasar. Wilayah yang terdampak gangguan PDAM di antaranya kawasan Denpasar Utara dan Denpasar Barat. Kondisi ini akibat bendung karet di aliran Tukad Penet kempes diterjang aliran air yang besar.

Menurut Direktur Teknik Perumda Air Minum Tirta Sewaka Dharma Denpasar Putu Yasa saat dimintai konfirmasinya, Senin (4/11), hujan yang terjadi sempat mengganggu aliran air ke pelanggan. Pengaliran air dari SPAM Penet yang dikelola UPT Pam Provinsi baru semalam bisa beroperasi normal kembali. Meski demikian, gangguan masih terjadi di beberapa wilayah.

Wilayah yang mengalami gangguan yakni Denpasar Utara di Kelurahan Ubung dan sekitarnya dan Denpasar Barat di wilayah Jalan Gunung Soputan, Jalan Gunung Guntur, Jalan Tangkuban Perahu, Jalan Gunung Lebah, Jalan Kargo dan Jalan Merpati.

“Kami dari Perumda Air Denpasar membeli air baku di sana. SPAM Penet itu dikelola oleh Provinsi Bali. Akibat kejadian tersebut, aliran air ke Denpasar ditutup sementara,” ujar Yasa.

Hal itulah yang membuat wilayah Denpasar Utara dan Denpasar Barat mengalami gangguan pengaliran air. Sebenarnya perbaikan telah selesai dilakukan pada Minggu malam. Akan tetapi dikarenakan masih proses pengisian, aliran air belum bisa normal.

Menurutnya, saat ini gangguan masih terjadi di daerah yang relatif lebih tinggi. Sementara di daerah perkotaan sudah mengalir walaupun belum maksimal. Yasa berharap dalam waktu secepatnya air sudah bisa mengalir dengan normal ke wilayah Denpasar.

Gangguan aliran air saat hujan, juga dikatakan Putu Yasa ketika menerima kunjungan kerja jajaran Komisi II dan IV DPRD Denpasar belum lama ini. Saat musim kemarau seperti sekarang, Perumda Air cukup kesulitan karena air permukaan debitnya sangat kecil dan air bawah tanah mengalami penurunan debit.

Ironisnya lagi, pada musim hujan bisa jadi Perumda milik Pemkot Denpasar ini juga tidak bisa operasional. Sebab, air permukaan mengalami kekeruhan cukup tinggi, sehingga tidak bisa diolah. “Jadi, masyarakat sering bertanya, musim kemarau tidak ada air, kini musim hujan pun mengaku tak ada air,” tandas Yasa. (Asmara Putra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.