Ilustrasi. (BP/ist)

Di negara maju, setiap sekolah dan perusahaan sudah memiliki manajemen talenta. Artinya, untuk membangun SDM yang berkualitas ada serangkaian proses sumber daya manusia dalam organisasi terpadu yang dirancang untuk mengembangkan, memotivasi, dan mempertahankan produktivitas, terhadap karyawan yang terlibat.

Tujuan dari manajemen bakat adalah untuk menciptakan kinerja tinggi, organisasi berkelanjutan yang memenuhi tujuan strategis dan operasional, serta untuk membangun blok bangunan sehingga manajer dan SDM dapat menemukan talenta individu dan menempatkan mereka di mana bisnis dan individu akan lebih bermanfaat.

Demikian juga untuk keluarga, sekolah, hingga negara, manajemen bakat alias talenta wajib dilakukan. Namun sering dilanggar oleh egoisme individu. Miasalnya anak yang berbakat di bidang ilmu sosial seperti hukum, dipaksa oleh orangtuanya untuk memilih sudi lanjut di IPA dan kedokteran. Tidak sedikit anak merasa tertekan karena mereka belajar dan bekerja bukan pada tempatnya.

Di keluarga pada hakikatnya adalah penemuan untuk kali pertama dan utama penemuan bakat seseorang. Sebab, di keluargalah waktu terbanyak anak-anak berada, setelah itu di sekolah. Orangtua mestinya menjadi panutan penemu dan kemudian mengembangkan talenta anak-anak.

Risikonya jika kita salah membentuk kepribadian mereka, akan memengaruhi masa depan anak. Bagi orang dewasa yang mengerti, jalankan tugas ini dengan baik. Sadarilah keluarga dokter belum tentu melahirkan generasi dokter semuanya.

Justru hasil penelitian terbaru mengungkapkan keluarga yang memiliki anak dengan bidang keilmuan yang berbeda-beda justru lebih sukses ketimbang satu bidang keuilmuan. Sangat tidak mungkin juga keluarga pebisnis, 100 persen melahirkan kader pebisnis murni.

Baca juga:  Kementerian Koperasi dan UKM Jalin Kerjasama dengan PHDI

Ini namanya manusia bersifat unik yakni selalu berbeda dengan individu lainnya. Biarkan anak berkembang sesuai dengan bakatnya sendiri. Selanjutnya, faktor lingkungan akan memolesnya lebih lanjut, asalkan mendukung program pengembangan dirinya.

Kedua, ketika anak berada di sekolah, model pembelajaran sesuai dengan bakat dan talenta harusnya dikedepankan. Bukankah sekolah sudah memiliki guru BK yang setiap tahun melakukan tes minat, bakat, dan IQ siswa. Hal ini mestinya dipakai standar oleh guru baik dalam penentuan penjurusan maupun dalam model pembelajaran individual. Kalau memang tak ada fungsinya, mengapa kita sibuk dan mengeluarkan uang untuk tes bakat dan minat segala.

Kalau pembelajaran individual masih jauh panggang dari api, paling tidak ada cluster pembakatan dalam bentuk ekstrakurikuler. Sekali lagi, tak boleh ada pemaksaaan kehendak guru dan orangtua di sini.

Hargai hasil pemetaan tes minat dan tes bakat. Sebab secara teoretis, jika anak belajar sesuai dengan kesenangan dan bakatnya akan melahirkan kesenangan dan prestasi. Tinggal orangtua bertindak tut wuri handayani yakni mengawasi dari depan, samping dan belakang agar tak melenceng dari koridor hakikat pendidikan yakni memanusiakan manusia seutuhnya.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.