DENPASAR, BALIPOST.com – Fasilitas kesehatan yang jaraknya jauh dari rumah penduduk, pusat rujukan kesehatan yang juga jauh, membuat dr. Kadek Dian Lestari, M.Biomed., Sp.PD asal Bali terketuk hatinya untuk merantau ke pulau Kalimantan dan Sulawesi. Ditemui Selasa (30/7) di Sanur, Dian baru saja datang dari Buton Utara untuk libur hari raya.

Sehabis hari raya ia kembali bertugas. Dian menuturkan pengalamannya bertugas di pulau-pulau yang masih minim pelayanan kesehatan itu.

Saat ini ia bertugas di RSUD Buton Utara. Ia mengikuti program Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yaitu Wajib Kerja Dokter Spesialis. “Jadi saya dapat penempatan di Buton Utara,” ungkapnya wanita yang besar di Sanur, Denpasar ini.

Wanita berambut pendek ini bukanlah dokter PNS melainkan dari swasta. Sebelumnya ia menjabat sebagai Direktur Utama RS BaliMed.

Namun sejak 1,5 tahun lalu ia memutuskan untuk berkeliling Indonesia. Selain suka travelling, Dian juga memiliki passion membantu masyarakat yang tidak tersentuh pelayanan dengan ilmu kedokteran spesialis penyakit dalam yang ia miliki. “Dokter ahli di daerah terpencil itu sedikit bahkan tidak ada. Yang ada hanya dokter umum lokal. Ada rumah sakit tapi tidak ada dokter ahlinya. Sehingga ada beberapa penyakit yang berat tidak bisa ditangani dokter umum karena dokter umum tidak sampai ke sana ilmunya,” ungkapnya.

Baca juga:  Jaksa Tahan Oknum Perbekel Penganiaya Dokter di Lapas Kerobokan

Sebelumnya ia pernah bertugas di Kalimantan Tengah dan kini di Buton Utara. Selanjutnya ia berencana mengabdi ke Papua. Namun, kata Dian, jika ada jalan, pergi ke Papua adalah keniscayaan.

“Bayangkan kalau suatu daerah tidak ada dokter ahli, masyarakat dengan penyakit kronis kadang-kadang meningggal begitu saja tanpa dapat penanganan. Karena dokter ahli tidak ada, sarana terbatas, merujuk juga perlu 12 jam. Jalan rusak, harus melwati sungai, laut, kasihan,” tuturnya.

Sementara di kota banyak pilihan. Kesempatan orang untuk hidup lebih besar. Ketika seseorang memiliki penyakit serangan jantung, dengan dokter ahli yang ada serta sarana yang ada, orang tersebut dapat tertolong. “Jangkan dokter ahli, dokter umum pun masih terbatas di sana,” tandasnya.

Menurutnya dengan berada di jalur swasta, passionnya menjadi dokter ahli demi kemanusiaan dapat tersalurkan. Ia dapat bergerak melalui yayasan, NGO, LSM dan bergabung dengan berbagai pihak.

Setelah menamatkan pendidikan dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Unud, Dian mantap untuk merantau. “Dengan kita punya keahlian yang lebih, kita bisa menolong orang,” tandasnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.