Bupati I Putu Artha. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Kabupaten Jembrana yang berada di ujung Barat Bali selama ini hanya sebagai perlintasan kendaraan. Sebagai wilayah pinggiran sekaligus perbatasan, sejatinya banyak potensi yang dapat mengangkat ekonomi masyarakat Jembrana.

Tanpa mengesampingan pariwisata Bali Barat yang sedang gencar dikembangkan daerah, banyak potensi yang mampu mengangkat derajat masyarakat Jembrana, berbasis ekonomi kerakyatan. Perlunya keseriusan (konsistensi) dan sinergi dari berbagai lini pemerintahan, baik Pusat, Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota se-Bali untuk bersama-sama memandang Jembrana sebagai satu kesatuan Bali.

Bukan hanya sekadar menjadi daerah perlintasan kendaraan atau pun penjaga pintu masuk Bali saja. Dengan perkembangan pembangunan jalur transportasi darat, jarak dan waktu tempuh dengan pusat perekonomian Bali (Bali Selatan) menjadi salah satu kendala daerah dapat berkembang.

Sejumlah solusi jangka pendek dan jangka menengah sejatinya sudah lama terhembus sejak awal kepimpinan Bupati Jembrana I Putu Artha dan Wabup Made Kembang Hartawan. Dalam setiap kesempatan, Bupati Artha menyebutkan bahwa Pemkab Jembrana telah mengusulkan dan sudah masuk di RTRW Provinsi lima desa ditetapkan sebagai kawasan industri di antaranya Pengambengan Baluk, Tegal Badeng Timur dan Tegal Badeng Barat serta Cupel seluas 950 hektare daerah itu disebut kawasan perekonomian terpadu.

Di samping itu juga potensi wilayah pergudangan seperti di Melaya dan Pekutatan (Persil). Usulan itu didasarkan karakteristik yang cocok untuk industri sebagai daerah penyangga sehingga mengurangi juga kemacetan di Denpasar-Badung akibat truk-truk bermuatan besar melintas. “Yang sudah terealisasi baru gudang transit otomotif di Klatakan Melaya. Sebenarnya banyak lahan yang terbuka disini. Dari sisi lokasi juga strategis (dekat dengan Pelabuhan Gilimanuk), lahan masih memadai dan biaya tenaga kerja yang lebih murah. Kami sangat terbuka dengan luasan (tanah) yang memadai untuk investor datang,” ujar Bupati Artha.

Namun, sekali lagi, hal itu perlu komitmen bersama dari berbagai lini. Tidak hanya memandang sebelah mata, Jembrana sebagai daerah perlintasan. Satu jalur dalam pengembangan daerah mulai dari Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Sehingga, ketika pergudangan atau transit berbagai produk baik untuk lokal ataupun ekspor berada di Jembrana, otomatis sektor lain untuk kesejahteraan seperti tenaga kerja dan ekonomi masyarakat otomatis terdongkrak. “Tidak perlu warga kita kerja sampai ke Badung, perekonomian berjalan disini dan membangun desa,” ujar Bupati Artha.

Baca juga:  Festival Pesona Tirtatangga, Angkat Potensi Seni Budaya Karangasem 

Terkait kendaraan berat yang melintas, Pemkab Jembrana juga telah menyediakan lahan seluas 4 hektar di Gilimanuk yang dapat dikembangkan menjadi transit kendaraan barang. Sehingga truk-truk bermuatan berat yang selama ini dinilai sebagai “biang kerok” kemacetan bisa berkurang minimal saat jam-jam padat kendaraan. Solusi untuk mempercepat waktu tempuh perjalanan Denpasar-Gilimanuk juga sejatinya telah dipikirkan. Disamping terus memperjuangkan  Jalan Tol dan Kereta Api, juga telah diusulkan sejumlah solusi jangka pendek.

Wabup Jembrana I Made Kembang Hartawan membeberkan selain terus memperjuangkan jalan tol dan kereta api, juga ada tiga solusi jangka pendek terkait permasalahan transportasi darat ini. Menurut Ketua DPC PDI Perjuangan ini, solusi pertama di antaranya mengintensifkan prasarana yang ada saat ini, salah satunya Terminal Kargo di Gilimanuk. “Kendaraan bertonase berat, agar transit di Terminal Kargo (Gilimanuk) sampai waktu yang ditentukan malam hari atau diatas jam 21.00 Wita. Sehingga kendaraan lebih leluasa di saat jam padat (siang). Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (provinsi) terkait ini. Tinggal bagaimana konsisten menjalankan aturan ini,” ujar Kembang Hartawan.

Solusi kedua, bisa dilakukan dengan pelebaran jalan Denpasar Gilimanuk. Kembang mencontohkan sejumlah ruas jalan utama di di Jawa Timur, juga menerapkan hal tersebut (pelebaran jalan). Setidaknya, ada sela kendaraan menyalip truk yang selama ini sering berjalan beriringan.

Selama puluhan tahun, jalan Denpasar-Gilimanuk masih sebatas dua lajur kendaraan. Sehingga sangat padat ketika sejumlah kendaraan truk melintas beriringan. Untuk pelebaran jalan, di beberapa titik jalan Denpasar-Gilimanuk di Jembrana telah menerapkan pelebaran jalan itu, seperti di by-pass jalan Sudirman, ACJN Rambut Siwi, Gilimanuk dan Sumbersari, Melaya. Dan hal ini berjalan efektif.

Solusi ketiga adalah melalui pembangunan short cut. Di beberapa ruas jalan tanjakan menikung seperti di Pekutatan diatasi dengan short cut. Sehingga dapat memangkas jarak dan waktu tempuh. Kembang meyakini dengan tiga solusi jangka pendek, permasalahan transportasi darat bisa teratasi. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.