Ilustrasi. (BP/istimewa)

Aksi teror di Selandia Baru begitu menyentak dunia. Negeri Kiwi yang selama ini digambarkan sebagai negara yang adem tenteram, ternyata aksi radikalisme itu juga ada di sana. Jadi, apa yang salah dengan negara ini? Tentu tidak ada yang salah, begitu juga dengan tempat-tempat aksi teror ini terjadi.

Tidak ada satu pun agama di muka bumi ini yang mengajarkan kekerasan, kekejaman, serta aksi biadab yang melawan rasa kemanusiaan. Terus, mengapa aksi teror ini seakan tidak pernah berhenti?

Katanya ketidakadilan dalam segala bidang serta ditambah lagi kemiskinan ibarat lahan subur yang membuat paham radikalisme itu terus berkembang. Ada berjuta alasan yang membuat orang serta sekelompok orang melakukan berbagai perlawanan serta ingin mengubah keadaan menurut versi mereka masing-masing. Termasuk dengan cara kekerasan. Ketika gerakan ini kemudian bercampur dengan ideologi maka akan menjadi sebuah gerakan yang berbahaya. Celakanya, oknum ini sering kali menggunakan topeng untuk melakukan aksi mereka. Bahkan, aksi teror itu dicarikan pembenar di setiap agama yang sama sekali ajarannya bertolak belakang dengan aksi mereka.

Itulah kemudian menjadi sebuah pergulatan ideologi, sebuah aksi reaksi yang memicu sikap serta perilaku yang sama sekali tidak mempresentasikan ajaran agama mana pun. Sama sekali tidak ada. Ini hanya sebuah paham dari munculnya akumulasi sikap yang merasa terpinggirkan, tersingkirkan akibat ketidakadilan. Atau ini juga bisa karena sikap seolah-olah merasa ada sebuah ancaman serta ketakutan yang berlebihan sehingga membuat orang menjadi lebih sensitif serta impulsif.

Baca juga:  Kemiskinan dan Pemiskinan di Bali

Namun, di sisi lain mesti ada ketegasan dari pemerintah terhadap orang orang atau sekelompok orang yang memang sudah punya niat dan sengaja untuk melakukan hal ini. Tentu pemerintah dengan segala macam perangkat intelijennya mampu mengendus hal itu dan mulai memetakan serta mempelajari pola-pola pengembangan sel-sel terorisme serta paham-paham radikal yang ada di masyarakat.

Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendirian, mesti dibantu oleh seluruh elemen masyarakat bahwa sikap waspada itu mesti ditumbuhkembangkan. Di samping tentu saja untuk terus memupuk rasa solidaritas serta toleransi yang didasari oleh fakta kebinekaan. Apalagi Indonesia yang sangat beragam. Juga Negara-negara yang selama ini sebagai tujuan imigran, seperti Australia serta Selandia Baru.

Bagi Indonesia sendiri yang berulang kali dikoyak aksi teror, tentu hal ini menjadi masalah krusial di tengah upaya-upaya meruntuhkan sendi-sendi negara NKRI. Semua pihak mesti disadarkan oleh fakta sejarah bagaimana negara ini dibangun. Bagaimana melelahkannya untuk membuat negara ini kokoh berdiri.

Para pemimpin dahulu mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk negeri ini. Atas dasar perbedaan serta solidaritas kuat maka bangsa ini bisa sejajar dengan bangsa lainnya. Dia yang mayoritas tidak merasa dirinya lebih berhak dan merangkul yang lain. Yang minoritas pun tidak merasa terpinggirkan. Jadi, semua memegang peran. Semua berbagi untuk negeri.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.