DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus demam berdarah (DB) di Denpasar mengalami peningkatan. Di Puskesmas 2 Denpasar Timur saja dilaporkan ada 7 kasus DB dalam 3 minggu terakhir ini.

Menurut Kepala Puskesmas 2 Denpasar Timur, dr. I Made Buda Wisnawa, M.Kes., Rabu (30/1), jumlah kasus selama 3 minggu terakhir ini sama dengan total jumlah kasus di 2018. “Stahun kemarin, 2018 kasusnya hanya 7 setahun. Sedangkan tahun 2019, baru 3 minggu kemarin sudah 7 kasus. Kasus sekarang sama dengan tahun lalu jadinya. Jadi kemungkinan masih nambah dengan situasi cuaca yang tidak bersahabat,” bebernya.

Mengingat di Denpasar hanya ada 3 puskesmas rawat inap, setiap ada pasien DB akan dirujuk ke rumah sakit untuk rawat inap. “Tidak berani kita rawat jalan. Kalau sudah DB harus rawat inap, engga berani rawat jalan karena pemeriksaan lab 24 jam,” ungkapnya.

Upaya promotif dan preventif di puskesmas telah dilakukan. Puskesmas di Denpasar memiliki jumantik yang setiap hari ke rumah-rumah penduduk. “Di Denpasar sudah semua punya jumantik di desanya. Kita punya 60 jumantik di sini,” ungkapnya.

Jumantik sudah memiliki jadwal ke masyarakat. Bahkan jumantik dikatakan selalu membawa abate ke rumah-rumah penduduk. “Mereka selalu membawa abate untuk mengisi tempat-tempat penampungan air. Yang memang susah dikuras diisi abate, di samping memang penyuluhan di banjar, di posyandu, sekolah dan puskesmas sendiri ada kunjungannya itu,” ujarnya.

Dari hasil pantauan jumantik, masih ditemukan ada jentik di lapangan. “Dengan situasi begini, hujan begini, populasi jentiknya naik,” ujarnya.

Baca juga:  Tiba di Mapolda, Ini yang Diteriakkan Ketua Kadin Bali

Dikatakan setiap tahun ada saja jentik saat musim hujan. Masih ada tempat-tempat penampungan air yang berisi jentik. “Jika seminggu saja lengah pasti jentik hidup. Seminggu saja tempat penampungan air dibiarkan pasti ada jentik,” pungkasnya.

Maka dari itu perlu memberdayakan masyarakat untuk membentuk jumantik mandiri di setiap rumah tangga. Agar kasusnya tidak cepat menyebar ke lingkungan masyarakat. “Agar di rumahnya diusahakan tidak ada jentik. Mereka kita kasih tanggung jawab di samping memang jumantik kita keliling. Karena sebulan sekali baru ketemu di rumah dengan pemilik rumah. Jadi kita harapkan yang punya rumahlah, ada satu yang sebagai penanggung jawab dirumahnya. Itu yang disebut sebagai jumantik mandiri,” jelasnya.

Dengan demikian selain menghindarkan masyarakat dari penyakit DB juga mendidik dan membiasakan masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya, MPPM., mengatakan, memang ada peningkatan kasus bulan Januari karena curah hujan meningkat. Namun tidak sampai KLB (kejadian luar biasa).

Peningkatan kasus DB ini dikatakan karena masih ada jentik di lapangan atau rumah pendudu. “Semasih ada jentik berarti masih ada nyamuk yang membawa virus,” tandasnya.

Pada minggu III tahun 2019 sudah ada 139 kasus. Dibandingkan Januari 2018 ada 143 kasus. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.