Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersama pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) serta pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) bersiap mengikuti debat pertama Pilpres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/). (BP/ant)

Oleh GPB Suka Arjawa

Masyarakat Indonesia akhirnya kembali dapat menyaksikan acara debat televisi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Lima tahun yang lalu, hal seperti ini juga sudah tersaji. Tentu saja sudah ada perbedaaan penampilan masyarakat terhadap debat seperti ini. Selama lima tahun, mereka juga sudah sempat menonton perdebatan calon gubernur dan calon bupati. Bahkan, mungkin pula perdebatan calon anggota legislatif.

Dari sisi ini harus dilihat bahwa rasionalitas masyarakat dalam melihat perdebatan akan meningkat. Tentu kita berharap agar kelak mereka mampu menunggu acara debat berikutnya untuk membuat keputusan untuk memilih bulan april mendatang. Pada sisi kandidat, keduanya merupakan bagian dari peserta debat tahun 2014 yang lalu, terutama dari sisi calon presiden. Tentu ini memberikan tambahan ketenangan bagi mereka untuk tampil.

Dari konteks itulah dapat dilihat pada debat pertama yang lalu, sisi sosial dan humanisnya kelihatan. Acara debat dibuatkan panggung nonton bersama ibaratnya nonton bola di daerah-daerah. Juga ada hiburan musik. Dan terlihat juga para kandidat berupaya menguasai panggung dengan sebaik-baiknya, mencoba menjawab pertanyaan dengan tenang. Panggung nonton bareng, musik serta menenangkan diri untuk menjawab pertanyaan merupakan upaya menonformalkan suasana.

Cara ini bagus dan positif serta merupakan refleksi diri untuk menghindar dari ketegangan. Bisa dibayangkan, bagaimana tegangnya bangsa Indonesia menjelang debat ini karena demikian banyaknya pendapat yang berseliweran melalui jagat sosial. Artinya, baik pada perbincangan masyarakat, tulisan di koran, bincang-bincang televisi dan radio sampai dengan media sosial, dari pagi hingga ke pagi berikutnya, isinya politik saja dan itu mengerucut kepada pemilihan presiden.

Sesuatu yang tidak adil karena sesungguhnya yang terjadi bukan hanya pemilihan presiden, tetapi juga legislatif (DPR, DPRD, dan DPD). Karena itulah, penting adanya upaya penurunan ketegangan tersebut. Itulah juga makna lagu Zamrud Khatulistiwa yang dinyanyikan pada pembukaan debat pertama lalu. Artinya, tidak usah terlalu berisik dalam perhelatan Pemilu kali ini tetapi ingatlah bahwa Indonesia tersebut merupakan negara yang kaya raya, dan itulah yang harus dipertahankan dan dilindungi oleh siapa pun yang terpilih menjadi presiden mendatang.

Upaya menguasai ketenangan itulah yang terlihat pada  debat calon presiden dan wakil presiden ini pada awal-awal debat. Merupakan hal yang manusiawi jika kedua pasangan berusaha menguasai itu, dan pada awalnya kelihatan gagal. Dengan gayanya masing-masing, kedua pasangan kelihatan berupaya untuk itu.

Pasangan urut 01 yang memang sipil mempunyai gaya  bicara pelan kelihatan dengan mengatur diksi bicara. Sebagai mantan tentara pasangan nomor 02 terkesan berusaha tegar untuk menjawab pertanyaan dengan volume suara yang lebih besar dan tegas.

Ketegangan yang masih kelihatan pada dua pasangan pada awal-awal debat ini sangat kelihatan ketika pasangan 01 menyisakan waktu yang cukup signifikan dan calon wakil presiden pasangan ini tidak berupaya untuk memanfaatkan waktu yang tersisa. Sementara pasangan 02 mencoba menyerang dengan mengungkap soal kepala desa yang dihukum karena mendukung pasangan nomor urut 02. Ini merupakan wujud kegugupan dari dua pasangan tersebut.

Baca juga:  621 Pemilih Dicoret dari DPT Denpasar

Sesungguhnya tema-tema yang ditampilkan pada debat pertama ini lumayan bagus, karena itu merupakan hal mendesak yang dibereskan pemimpin ke depan. Terorisme, HAM, korupsi dan penataan hukum merupakan masalah yang boleh dikatakan mendasar bagi bangsa Indonesia. Jika misalnya disandingkan dengan kemiskinan, maka tema ini seharusnya menjadi komplit untuk debat yang pertama karena itulah yang menjadi tantangan Indonesia ke depan.

Maka, jika persoalan tersebut ditampilkan paling dahulu dalam kerangka debat calon presiden Indonesia, itu menyimbolkan keseriusan penanganan bagi pemerintah dan mempunyai makna bahwa presiden terpilih nanti, dengan pasangannya, akan memberikan prioritas untuk menangani masalah tersebut. Keberhasilan presiden untuk mengatasi persoalan-persoalan sesuai tema itu, maka Indonesia akan benar-benar menjadi negara yang makmur.

Kelemahan paling kelihatan dalam debat yang berlangsung kemarin adalah lemahnya jawaban dari para kandidat. Antara pertanyaan dan jawaban banyak yang tidak nyambung.

Katakanlah yang paling sederhana adalah pertanyaan yang meminta agar paslon memberikan contoh konkret terhadap masalah yang diungkapkan. Tetapi kemudian dari jawaban yang muncul tidak ada yang memberikan contoh konkret seperti itu.

Dalam kontestasi politik setingkat presiden, ini yang harus diperhatikan betul sebab sangat berpengaruh langsung kepada masyarakat. Pengaruh ini sifatnya kompleks, baik bagi kandidat maupun bagi masyarakat. Bagi kandidat, jawaban yang tidak nyambung  itu akan memberikan kesan bahwa para pasangan kandidat ini tidak menguasai persoalan.

Pada tataran masyarakat, hal itu akan menurunkan keyakinan mereka untuk membuat pilihan saat pencoblosan nanti. Namun sebaliknya, karena ini merupakan kontestasi bagi jabatan paling tinggi di sebuah negara, maka jawaban yang tidak nyambung itu dapat memberikan dorongan bagi anggota-anggota masyarakat untuk ikut-ikutan menjawab sekenanya.

Ini bisa terjadi pada berbagai level. Jawaban tidak nyambung ini akan dapat memberikan inspirasi kepada pelajar atau mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari humaniora, untuk sekedar membuat jawaban.

Dengan demikian, pekerjaan ke depan adalah agar para penasihat atau juru latih kandidat dalam debat, mampu mengubah cara menjawab agar dapat nyambung. Meskipun mengharapkan adu argumentasi sepertinya masih jauh dari harapan, tetapi apabila masing-masing kandidat mampu memberikan jawaban yang nyambung dengan pertanyaan, ini sudah merupakan pencapaian yang bagus.

Masih ada beberapa debat lagi yang akan digelar dengan tema yang berbeda. Maka inilah kesempatan bagi para kandidat untuk memperbaiki diri.

Jangan dilupakan bahwa penampilan juga akan sangat memengaruhi nilai masyarakat untuk memilih. Masyarakat juga masih mempunyai waktu untuk melihat penampilan mereka dalam debat-debat mendatang sebelum memutuskan untuk mencoblos pada hari “H” nanti. Indonesia benar-benar menginginkan agar pemimpinnya memahami kondisi sosial yang ada. Dengan itulah diharapkan akan membuat kebijakan politik. Jadi, masih ada pekerjaan rumah para kandidat untuk debat berikutnya.

Penulis, staf pengajar Sosiologi FISIP Universitas Udayana

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.