Tim identifikasi ketika melakukan identifikasi penemuan tengkorak dan tulang belulang. (BP/kmb)

NEGARA, BALIPOST.com – Sejumlah buruh perabas semak – semak di hutan Taman Nasional Bali Barat, Cekik Gilimanuk, Kamis (1/11) siang menemukan tengkorak dan tulang belulang. Awalnya, sepuluh orang buruh asal banjar Melaya Tengah Kaja, Melaya bersama-sama merabas semak-semak yang mengering di hutan sebelah timur monumen pertempuran lintas laut Jawa-Bali, Cekik, Gilimanuk. Sedang asik merabas, seorang buruh kaget melihat tengkorak tergeleletak di semak-semak.

Made Wijana (48) mengatakan, awalnya dikira tengkorak kera. Dia bilang sama teman-temannya. Setelah diperiksa ternyata tengkorak manusia. Kemudian dilakukan pencarian tulang belulang lainnya. Hingga ditemukan tulang paha dan tulang paha.

Dilokasi juga ditemukan ponsel samsung, sandal warna hijau dan STNK sepeda motor Honda Supra Fit DK 4699 WO atas nama Kadek Wiarmita warga banjar/desa Dangin Tukadaya, Jembrana.

Menurutnya, lokasi antara tengkorak dan tulang lainya itu cukup berjauhan ada yang 50 meter dan tercecer di lokasi lainnya.

Diduga mayatnya dimakan biawak atau binatang lainnya. Diduga tengkorak itu sudah tahun 2016. Selanjutnya temuan itu dilaporkan ke Polsek Kawasan Laut Gilimanuk.

Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk Kompol Nyoman Subawa didampingi Kanit Reskrim Polsek Gilimanuk AKP Komang Muliyadi mengatakan, pihaknya akan berusaha berkoordinasi dengan Polres Jembrana untuk mencari titik terang dan perkembangan penemuan tengkorak dan tulang belulang ini.

“Jika ada yang merasa kehilangan keluarga atau kerabat bisa menghubungi Polres Jembrana atau Polsek Gilimanuk. Mudah-mudahan dengan ditemukannya STNK dan HP Samsung bisa membuat terang kasus ini,” harapnya.

Baca juga:  Modus Upaya Penyelundupan Puluhan Tengkorak ke Belanda

Sementara itu sejumlah warga Desa Dangintukadaya, Kecamatan Jembrana, Kamis sore mendatangi Polres Jembrana dan Polsek Gilimanuk.

Gede Widiarsana, anak dari Ketut Sudarna (63) yang telah lama hilang, mengatakan bahwa pihaknya datang ke lokasi ingin memastikan apakah itu ayahnya yang selama ini hilang atau tidak, katanya.

Widiarsana mengatakan, ayahnya menghilang saat Hari Raya Kuningan akhir tahun 2015. Saat itu selesai sembahyang mereka kumpul-kumpul. Ayahnya pamitan untuk jalan-jalan. Namun sampai malam tidak kembali. Sempat dihubungi ponselnya dan dijawab sedang ada di hutan dan tidak diketahui di hutan mana. “Beberapa kali kami hubungi tetap dikatakan di hutan. Tapi tidak jelas dimana. Malam kami telepon lagi tidak diangkat dan akhirnya HP nya mati sampai 2 tahun ini,” jelasnya.

Setelah mengecek STNK dan sandal juga HP yang ditemukan pihaknya memastikan itu ayahnya. “Kami yakin itu ayah kami. Tapi kami koordinasi dulu dengan Polres Jembrana. Kami iklas jika itu ayah kami. Jika benar nanti kami rembuk keluarga dan akan diabenkan,” katanya.

Dari informasi dari kerabat Ketut Sudarna, dia menghilang dua tahun lebih sudah sakit-sakitan dan pikun. Memiliki dua anak laki-laki. Istrinya juga sakit-sakitan. Saat menghilang sebenarnya juga bawa dompet dan sejumlah uang. Namun dompet tidak ditemukan di semak-semak dekat penemuan tengkorak dan tulang belulang. (kmb/balipost)

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.