Warga bekerja mengupas kulit kelapa. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Hampir sebagian besar penduduk di Desa Bantas, Selemadeg Timur berprofesi sebagai petani. Dan hampir semuanya memiliki kebun yang ditanami pohon kelapa. Sayangnya, karena tidak diolah menjadi produk, penjualan kelapa di Desa Bantas selama ini berupa butiran dan mengikuti harga pasar. Jika harga kelapa naik, petani untung, tetapi jika jeblok petani merugi. Karenanya ke depan pihak Desa Bantas hendak memberdayakan komoditas kelapa ini menjadi produk olahan yang lebih memiliki nilai jual.

Perbekel Bantas, I Gede Ketut Catur Adi Purnawan, Selasa (30/10) mengatakan produksi kelapa desa Bantas biasanya dijual ke pulau Jawa. Untuk mengirimannya ada beberapa pengepul yang membeli kelapa dari petani. Saat ini harga kelapa terjun bebas menjadi Rp 850 per butir yang dulunya sempat menyentuh harga Rp 5000 per butir. “Tergantung harga pasar. Kalau sedang naik ya naik. Kalo turun seperti sekarang, jeblok,” ujarnya.

Melihat potensi ini pihak Desa sedang menyiapkan masyarakatnya agar bisa mengolah kelapa menjadi produk seperti VCO dan sejenisnya. Bersiap menuju ini, kata Catur sedang disiapkan SDM dan lembaganya dalam hal ini Bumdes.
Hingga saat ini Desa Bantas belum memiliki Bumdes. Untuk bisa membentuk Bumdes, dipaparkan Catur tidak bisa semerta-merta tetapi harus melihat potensi apa yang dimiliki desa serta kesiapan SDM nya. “Sedang dipelajari potensinya sekaligus menyiapkan masyarakat serta SDM yang akan mengelola Bumdes nantinya,” jelas Catur.

Baca juga:  Terbentur Kualitas dan Kemasan, Produksi VCO Lumbung Kauh Stagnan

Selain produksi kelapanya, Desa Bantas memiliki pertanian organik. Sehingga berencana akan menjadi desa Agrowisata. Terlebih desa ini juga sudah baik dalam hal mengelola sampahnya. Bahkan banyak warga negara asing maupun domestik yang datang ke desa Bantas untuk mempelajari cara pengolahan sampahnya. Potensi-potensi ini yang akan dijadikan modal dasar Desa Bantas dalam membangun Bumdes nya dan menuju desa Agrowisata. “Diharapkan Bumdes dan Agrowisata bisa berjalan tahun 2019 mendatang,” ujar Catur.
Salah satu warga yang sedang bekerja mengupas kulit kelapa, Mitha mengatakan, kelapa yang dikupas ini, hasilnya akan dikirim ke Jawa. Sementara kulitnya akan dijual kepengrajin genteng di pejaten. “Ada juga dipakai sendiri,” ujarnya. (wira sanjiwani/balipost)

 

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.