Bulog Divre Bali hanya mampu menyerap beras karena harga gabah di atas HPP Nasional. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Harga gabah Bali selalu di atas harga HPP (harga pembelian pemerintah) yaitu Rp 3.750 per kg. Maka untuk memenuhi kebutuhan Bulog akan beras, yang diserap adalah beras.

Kepala Bulog Divisi Regional Bali Yosef Wijaya mengatakan, Bulog tidak lagi menyerap gabah karena harga gabah di Bali terlalu tinggi. Selain itu Bulog juga kesulitan dalam menggiling. Bulog memiliki penggilingan namun tidak berfungsi. Maka dari itu Bulog menyerap beras. Sementara itu Bulog harus cepat menyalurkan. “Kalau gabah itu perlu proses lagi,” katanya, Selasa (23/10).

Sampai saat ini serapan Bulog terhadap pengadaan beras sekitar 824 ton atau 33,98 persen. Dari target serapan Bulog 2.500 ton beras, Bulog Divre Bali baru bisa menyerap 824 ton, karena Bali bukan produsen padi.

Itu menyebabkan Bali menempati urutan ke- 15 dari 26 Bulog Divre se-Indonesia. “Memang secara nasional serapan Bulog masih 55 persen,” ungkap pria asli Makasar ini.

Baca juga:  Petani Tak Nikmati Kenaikan Harga GKP

Saat ini beras yang didapatkan baru diperoleh dari sebagian wilayah Kabupaten Tabanan. Pagu Kabupaten Tabanan dalam menyediakan beras untuk Bulog sebesar 173 ton. Namun Bulog hanya bisa mendapat 60-70 persennya.

Serapan beras ini untuk memenuhi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). BPNT dijual dengan harga Rp 10.000 per kg. Beras BPNT ini adalah beras kualitas premium. Selain ke Bulog, beras BPNT ini juga bisa masuk ke pasar umum bersaing dengan pelaku pasar yang lain.

Dalam menghadapi kekeringan, Bulog pun telah memiliki cadangan yang cukup yaitu 12.000 ton yang tersimpan di gudang Bulog. Setiap hari Bulog melakukan operasi pasar dalam menyalurkan beras tersebut. Tahun ini kurang lebih 1.400-an disalurkan. Sedangkan untuk Oktober saja sudah tersalur 132 ton beras. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.