Aktivis Ratna Sarumpaet (tengah) dengan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di Dirkrimum Polda Metrojaya, Jakarta, Jumat (5/10). (BP/ant)

Ratna Sarumpaet. Nama ini viral dan membuat jagat politik nasional meradang. Kebohongan yang dilakukan tokoh perempuan ini sungguh di luar nalar kita. Praktik kebohongan seorang ibu ditengah upaya membangun citra politik dan demokrasi yang beradab patut disesalkan.

Ini mungkin kejahatan yang layak diatensi khusus mengingat berpotensi menimbulkan gesekan. Terlebih pelakuknya seorang tokoh perempuan, yang mungkin sebeluam kasus ini terungkap sempat dianggap  sebagai tokoh nasional yang vokal dan kritis. Nyatanya ia termakan oleh perilakuknya, terkarantina di penjara karena melempar hoax.

Yang jelas dalam dua pekan terakhir ini, Ratna Sarumpaet tampaknya harus menepi dan merenungi diri. Yang pasti juga kini sosok perempuan ini dihujat. Kalaupun ada yang membela hanyalah sebagian kecil.

Dan pihak–pihak yang membelanya pun dengan nalarnya sendiri dan cenderung menyudutkan lawan politik dan upaya penegakkan hukum. Padahal, inti masalahnya Ratna Sarumpaet telah menebar berita bohong. Secara hukum Ratna Sarumpaet melanggar sejumlah norma yang kita sepakati di negeri ini.

Kini dialam demokrasi yang penuh dinamika dan jagat maya disesaki hoax, ada baiknya tokoh-tokoh nasional memposisikan diri sebagai panutan. Berhentilah melakukan propaganda politik yang jauh dari fakta, hanya untuk medelegitimasi lawan politik. Cara-cara berpolitik dengan sarat rekayasa (terlebih menampilkan kebohongan sosok perempuan) sangatlah jauh dari peradaban bangsa ini.

Perempuan yang identik dengan kesetiaan dan kejujuran, mestinya menjauhkan nafsu untuk mendapat pengakuan dengan cara-cara yang sesat. Patut disesalkan jika kebohongan Ratna Sarumpaet telah membuat politisi kita nyaris kehilangan akal sehat.

Mereka juga mengaku menyesal dan grasa grusu menyikapi kebohongan Ratna. Yang pasti, ketika politisi berhadapan langsung dengan Ratna Sarumpaet, mereka gagal melakukan identifikasi  kepalsuan dan rekayasa lebam seorang Ratna Sarumpaet.

Tentu dalam kasus ini kita patut mengapresiasi kinerja kepolisian. Begitu berita ini dilempar ke publik,  kepolisian langsung membuktikan bahwa apa yang dilempar ke publik berbanding terbalik dengan cerita Ratna Sarumpaet.

Dan akhirnya Ratna pun mengaku berbohong. Polisi telah dengan detail mampu mengungkap fakta bahwa negeri ini sebenarnya sangat aman. Tak ada yang patut ditakuti ketika seorang tokoh politik yang berseberangan dengan kekuasaan hendak pergi kemanapun.

Baca juga:  Cegah Kematian Ibu, 40 Bidan Dilatih Antenatal Care Terpadu

Bisa dibayangkan, betapa buruknya kesan negeri ini jika di negeri ini benar-benar ada perempuan usia 70 tahun sampai dikeroyok orang di tempat publik. Siapa yang tega melakukan ini? Jika ini benar-benar terjadi, tentu citra negeri ini sangat buruk. Negeri ini seolah-olah gagal menjaga kenyamanan warganya. Terlebih ketika ditempat publik sekelas bandara, orang tua bisa dikeroyok.

Wah betapa kacaunya stabilitas negeri ini. Syukur apa yang diwacanakan Ratna Sarumpaet adalah hoax semata. Ini adalah pelajaran berharga bagi politisi bangsa ini.

Kita patut melakukan pencermatan yang jelas terhadap beragam isu yang bergulir di masyarakat sebelum bersikap. Politisi terlebih berpotensi menjadi pemimpin bangsa ini harusnya mengedepankan logika, bukan simpati semata menyikapi sebuah fenomena.

Politisi tidak boleh gegabah. Sebagai rakyat tentu kita masih sangat percaya kepada kepolisian dalam menjaga keamanan di negeri ini.

Yang jelas, drama Ratna Sarumpat dikaitkan sebagai sebuah kinerja aktor politik telah gagal menyeret kita pada keraguan terhadap pemerintah menjaga stabilitas. Langkah cepat kepolisian mengungkap peristiwa ini merupakan kegagalan fatal dari sebuah sandiwara politik.

Olok-olok di media sosial juga banyak yang muncul yang sebagian besar menyesalkan kejadian ini. Tetapi, bagaimanapun peristiwanya sudah terjadi dan itu harus dialami oleh bangsa Indonesia, patut kita jadikan pelajaran. Bahwa kebohongan di negeri ini jangan pernah diberikan tempat.

Ke depan kita tentu berharap tokoh bangsa ini benar-benar bisa kita teladani. Tokoh bangsa jangan jadi provokator dengan harapan mendapat simpatik publik. Rakyat ini sudah sangat paham bahwa siapa tokoh yang punya kebiasaan melempar bola panas dan siapa yang bekerja. Rakyat juga sudah sadar betul, negeri ini harus dibangun dengan etos kerja yang jelas bukan dengan kebohongan.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.