Leo Batubara sebelum dimakamkan akan disemayamkan di Gedung Dewan Pers. (BP/kmb)

JAKARTA, BALIPOST.com – Tokoh pers nasional Sabam Leo Batubara yang wafat pada Rabu (29/8) akan disemayamkan terlebih dahulu di Kantor Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu pagi (1/9) sebelum dimakamkan di Pemakaman San Dieo Hills, Karawang, Jawa Barat. “Sebelum dimakamkan akan ada prosesi penghormatan kepada beliau di Gedung Dewan Pers, Sabtu pagi (1/9/2018). Kami dari Dewan Pers menyampaikan duka mendalam untuk almarhum Pak Leo,” sebut anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (30/8).

Peran Leo Batubara dalam membangun kehidupan pers nasional dinilai Jimmy sangat besar. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Wakil Ketua Dewan Pers pada periode 2007-2010 ini sempat dirawat di (RSPAD) Gatot Subroto.

Dia terpeleset di Gedung Dewan Pers yang menyebabkan kepalanya terbentur dan terluka. Kemudian langsung dibawa ke IGD Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat namun nyawanya tidak tertolong.

Leo Batubara juga tercatat pernah menjadi Sekretaris Jenderal Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang kemudian berubah menjadi Serikat Perusahaan Pers, organisasi media cetak nasional satu-satunya di Indonesia yang telah berdiri sejak 1946 hingga saat ini. Jauh sebelumnya, Leo Batubara pada Tahun 1999, Leo juga aktif terlibat dalam perumusan Undang-Undang No. 40/1999 tentang Pers.

Baca juga:  Korban Tertabrak Truk di Labuan Sait Dimakamkan

Leo Btubara dikenal kalangan wartawan sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan kebebasan pers. Bicaranya lantang apabila memperjuangkan kepentingan insan pers.

Meski tak lagi di Dewan Pers, Leo tetap produktif menulis di berbagai surat kabar. Dia juga melahirkan banyak buku tentang teori pers. Sikap kritis terhadap profesionalitas wartawan tetap ia kedepankan.

Dari sikap kritis itu lahirlah ucapan yang terkenal “wartawan abal-abal”. Sebuah istilah untuk mengecam media dan para wartawan yang tidak mengedepankan kode etik jurnalistik yang benar.

Sabam Leo Batubara, dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 26 Agustus 1939. Luusan IKIP (sekarang Universitas Negeri Jakarta) ini rencananya akan dimakamkan berdampingan dengan makam isterinya Lintong Tambunan yang wafat pada 30 Juli 2018 silam. (Hardianto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.