Pelepasan tukik. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali yang telah lama hidup dari pariwisata, mengalami banyak permasalahan di bidang pariwisata. Selama ini persoalan – persoalan Bali telah banyak dikupas dan dibahas. Maka kini dengan kepemimpinan baru, akan fokus bergerak menuju One Island One Management dalam pengembangan pariwisata untuk memberikan kesejahteraan pada masyarakat.

Wakil Gubernur Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan, ia telah sepakat untuk mengembangkan konsep one island one management. Permasalahan-permasalahan pariwisata sudah banyak diperbincangkan. Sejak 10 tahun lebih sejak UU otonomi daerah digulirkan oleh pemerintah pusat, Bali sudah dapat diramalkan ke depannya. “Dan apa yang kita bayangkan sejak tahun 2002 otonomi daerah digulirkan kita lihat faktanya apa yang terjadi. Apa yang kita khawatirkan dari dulu akhirnya sekarang terjadi,” ujarnya Kamis (23/8) saat diskusi yang diselenggarakan dalam rangkaian pembukaan kantor baru MarkPlus Center for Tourism and Hospitality.

Persoalan-persoalan yang klasik menyangkut tentang kondisi pariwisata di Bali seperti ketidakseimbangan wisatawan yang  ke Bali, makin menyusutnya lama tinggal wisatawan di Bali, persoalan kemacetan di beberapa titik. “Jadi di beberapa titik mengalami kemacetan, polusi, dan banyak persoalan yang kita inventarisir dari dulu,” ujarnya.

Sejak UU otonomi daerah digulirkan dan memberikan kewenangan pada kepala daerah Bupati/walikota untuk memanfaatkan potensi wilayahnya secara maksimal untuk kesejahteraan rakyatnya. “Inilah yang menimbulkan pembangunan Bali yang terkotak – kotak, parsial,” ungkapnya. Hal ini dilakukan kepala daerah untuk menekan angka pengangguran, meningkatkan PAD, menurunkan angka kemiskinan. Karena indikator itu merupakan kesuksesan seorang pemimpin daerah.

Untuk mengejar indikator tersebut, pariwisatalah yang dapat menjadi kendaraan untuk mencapai indikator tersebut. Tujuannya untuk meningkatkan PAD. Namun kemudian terbentur dengan UU otonomi daerah. Oleh sebab itu tercetuslah gagasan One Island One Management, satu pulau satu tata kelola. Turunannya adalah setidaknya memiliki 3 modal untuk mewujudkan One Island One Management yaitu, culture, anggaran, kekuatan/kekuasaan. Semua akan bersatu padu

“Persoalan yang dihadapi Bali adalah mau engga bersatu. Yang sudah kadung merasakan nikmatnya otonomi, susah  diajak berkomitmen untuk membangun Bali,” ungkapnya.

Chairman of MarkPlus Center for Tourism and Hospitality Hermawan Kartajaya mengatakan, MarkPlus Center for Tourism and Hospitality berpartisipasi aktif dalam menguatkan pariwisata Indonesia dengan mengadakan diskusi pariwisata setiap tahun di Jakarta dan Bali. Diskusi rutin ini bertujuan untuk memberikan masukan melalui evaluasi dan pencapaian serta tantangan – tantangan yang akan dihadapi oleh Kementerian Pariwisata Indonesia.

“Selain itu, kami juga merancang berbagai macam aktivitas dan program seperti seminar nasional terkait pasar Tiongkok dan India. Seminar ini dengan mengundang berbagai narasumber yang memadukan perspektif Penta Helix yaitu akademisi, pemerintah, bisnis, komunitas, dan media,” ujarnya.(citta maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.