Ilustrasi. (BP/dok)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM terus berjalan. Dibalik perannya yang digadang-gadang untuk mendukung pertumbuhan usaha kerakyatan, itu justru mengancam eksistensi koperasi simpan pinjam (KSP) di Kabupaten Klungkung.

“KUR memang mempengaruhi pertumbuhan koperasi. Itu ada subsidi dari pemerintah. Sesuai evaluasi, volume pinjamannya menurun. Ini otomatis berdampak pada sisa hasil usaha yang juga turun,” ungkap Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Klungkung, I Wayan Ardiasa disela-sela pembahasan Rencana Kerja Strategis Pemerintah Daerah di ruang Praja Mandala Kantor Bupati, Selasa (5/6).

Alasan masyarakat untuk mencari KUR di perbankan tak lain karena tergiur bunga yang ditawarkan tergolong kecil, hanya 9,0 persen per tahun. Berbeda halnya dengan koperasi kisaran 12 persen. “Besaran bunga ini yang mempengaruhi. Bahkan ada informasi, warga sengaja mencari KUR untuk melunasi pinjaman di koperasi,” sebut Pejabat asal Jembrana ini.

Disampaikan lebih lanjut, kondisi demikian telah mempengaruhi kondisi koperasi, dari sehat menjadi cukup sehat. Bahkan, ancaman sakit berpeluang terjadi. Hal tersebut juga menyebabkan pemkab untuk menunda penyertaan modal tahun ini yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. “Karena situsi seperti ini, kami lebih fokus peningkatan kualitas dulu. Untuk penyertaan modal ditunda. Tetapi kalau ada yang mau modal, bisa mencari di Lembaga Pengelola Dana Bergulir,” jelasnya.

Baca juga:  Ini Target Rasio Kewirausahaan Indonesia

Berdasarkan data terakhir, di bumi serobotan tercatat ada 123 koperasi aktif. Ditegaskan, sebagian besar telah melakukan upaya untuk menjaga jumlah nasabah tetap stabil. “Sudah melakukan hal supaya nasabah tidak keluar. Jelang Galungan, ada pemberian kebutuhan pokok. Kami belum menemukan solusi lain. Ini persoalan nasional dan sudah sempat disampaikan ke pusat,” sebutnya.

Dampak demikian dirasakan Koperasi Unit Desa (KUD) Jaya Werdi, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan. “Memang ada dampaknya. Tapi baru dari beberapa bulan. Peminjamnya yang lama-lama saja,” ungkap Manager, I Nyoman Landra.

Saat ini, koperasi yang bergelut pada usaha pertanian ini memiliki 400 nasabah dan 2000-an anggota yang berasal dari beberapa subak. “Untuk pinjaman paling besar sepuluh juta,” imbuhnya.

Manager Koperasi Pasar Srinadi, Nengah Sujena mengatakan sampai saat ini jumlah anggota dan nasabahnya tergolong stabil. “Untuk KUR memang ada pengaruhnya. Tetapi untuk di Kopas Srinadi, tidak besar. Simpan pinjam masih berjalan,” sebutnya.

Ditambahkan, pihaknya telah melakukan langkah untuk mengantisipasi kelesuan. Salah satunya dengan mempermudah persyaratan dalam urusan simpan pinjam. “Untuk bunga masih kisaran 1,5 sampai 2,5 persen per bulan. Memang lebih tinggi dari KUR. Tetapi nasabah ada yang melihat dari sisi kemudahan mencarinya,” tandasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.