Penyandang tunanetra di Buleleng melakukan simulasi pencoblosan untuk Pilgub Bali 2018, Selasa (5/6). (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Sekitar 40 orang penyandang cacat tunanetra di Buleleng mengikuti sosialisasi dan simulasi mencoblos Pemilihan Gubernur Wakil Gubernur (Pilgub) Bali, Selasa (5/6) di Sekretariat Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Buleleng di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar. Penyandang tunanetra yang sudah tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) ini diajarkan nyoblos menggunakan alat bantu tamplate berisi huruf braille.

Komisioner KPU Buleleng Divisi Sosialisasi dan Sumberdaya Manusia (SDM) Gede Sutrawan mengatakan, upaya ini dilakukan karena KPU ingin melayani semua segmen pemilih agar bisa menyalurkan hak suaranya pada pencobosan pilbug 27 Juni 2018 ini. Selain itu, latihan nyoblos menggunakan tamplate braille ini dilakukan agar penyandang cacat tunanetra bisa memilih dengan mandiri dan menghindari upaya pihak tertentu yang mencoba mempengaruhi ketika mendampingi di Tempat Pemungutan Suara (TPS). “KPU melayani semua segmen pemilih, hari ini kami melakukan simulasi pencoblosan menyasar rekan kita yang mengalami cacat tuna netra. Karena ini menggunakan alat bantu, sehingga perlu dilatih. Mereka akan bisa nyoblos dengan mandiri, dan mengurangi adanya pengaruh pihak yang mendampingi saat datang ke TPS,” katanya.

Menurut Sutrawan, untuk melayani pemilih tunanetra dalam pencoblosan nanti, KPU menyiapkan tamplate braille sebanyak 1.088 sesuai jumlah TPS di Buleleng. Ribuan tamplate braille itu digunakan berkali-kali sesuai dengan pemilih yang menderita cacat tersebut di TPS bersangkutan. “Kami sudah siapkan tamplate ini di masing-masing TPS. Nanti bisa digunakan berkali-kali dan caranya cukup menyelipkan surat suara dalam tamplate kemudian pemilih bisa meraba braille untuk mencari nomor urut pasnagan calon yang sudah dilengkapi lubang untuk dicoblos,” katanya.

Baca juga:  Pelipatan Surat Suara di Denpasar Libatkan 64 Orang

Sementara itu, Ketua Pertuni Buleleng Nyoman Edi mengatakan, setelah mengikuti simulasi pencoblosan menggunakan template, ia mengaku tidak sulit nyoblos. “Dengan latihan seperti ini kami terbantu sekali, sehingga pada pemilihan nanti bisa nyoblos. Dari latihan tadi, tidak ada masalah dan bisa mengenali pasangan calon yang akan kita pilih,” katanya.

Di sisi lain Edi mengatakan, dalam pemilihan nanti, dirinya khawatir kalau rekan-rekannya yang berjumlah sampai 70 orang tersebar di 9 kecamatan tidak bisa memilih karena kesulitan akses dari rumah tinggal ke TPS. Apalagi, pada jam pencoblosan angkutan umum atau transportasi lain tidak bisa melayani.

Ia berharap agar ada pihak yang memfasilitasi para penyandang cacat tunanetra bisa datang ke TPS tepat waktu. “Seperti sekarang ini sebenarnya masih banyak yang bisa ikut, tapi karena kendala transportasi jadi tidak semua anggota hadir. Kami kahwatir kalau hari pemilihan nanti tidak ada yang bantu kami untuk datang ke TPS bisa saja tidak bisa nyoblos,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.