JAKARTA, BALIPOST.com – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF), perusahaan Maintenance Repair & Overhaul (MRO) berhasil membukukan kinerja positifnya. GMF meraih pendapatan operasional sebesar US$ 115,9 juta atau meningkat 9,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 106,1 juta.

Pada kuartal pertama tahun ini, GMF juga mencatatkan laba operasional US$ 12,8 juta, meningkat dari US$ 12,5 juta atau tumbuh 2,2%. Sementara laba bersih dicatatkan sebesar US$ 7,4 juta.

Direktur Utama GMF Iwan Joeniarto saat buka puasa bersama wartawan di Jakarta, Rabu (30/5) mengatakan, sumbangsih pendapatan di kuartal I tersebut didapat dari kontribusi Line Maintenance sebesar US$ 20 juta sedangkan Repair & Overhaul yang didalamnya merupakan bisnis airframe, component dan engine, sebesar US$ 95,9 Juta. ”Porsi ini sesuai dengan target perusahaan yaitu fokus pada bisnis perawatan komponen pesawat,” ujar Iwan.

Di samping kinerja keuangan yang baik, GMF juga menghasilkan performa operasional yang gemilang. GMF berhasil mencatat tingkat dispatch reliability sebesar 99,64%. Selain itu, GMFI juga mencatatkan angka 100% pada aspek Turn Around Time.

Iwan juga mengatakan, pada kuartal pertama 2018 sejumlah pencapaian berhasil didapat. Beberapa peningkatan kapasitas dan kapabilitas berhasil dilakukan diantaranya penambahan kapabilitas airframe check untuk Boeing 737 Max, penambahan kapabilitas perawatan komponen pesawat sebanyak 56 part number untuk berbagai jenis pesawat, serta penambahan kapasitas hingga 14 line secara simultan untuk hangar narrow body (hangar 4).

“Di kuartal I 2018 ini pun GMF telah merealisasikan salah satu Strategic Initiatives-nya dalam pemutakhiran teknologi informasi berupa aplikasi baru Customer Relationship Management,” tambahnya.

Sejalan dengan hal tersebut, di kuartal I 2018 ini GMF membawa pelanggan baru yang berasal dari Thailand dan Bangladesh untuk melakukan perawatan beratnya di Hangar GMF, Cengkareng. “Hal ini merupakan langkah konkret dari upaya peningkatan porsi revenue Non Afiliasi dengan menambahkan portofolio customer. Saat ini pendapatan dari Non Afiliasi meningkat menjadi 43.8% sedangkan pada tahun 2017 sebesar 32,6% dikuartal yang sama” kata Iwan.

Baca juga:  IPO Saham 30 Persen, GMF Targetkan Rp 3,9 Triliun

 

Ia menambahkan, dana tersebut digunakan untuk peningkatan kapabilitas, pembelian Tools & Equipment, peningkatan infrastruktur ICT dan juga infrastruktur umum lainnya yang menunjang perawatan pesawat. Di kesempatan yang sama Iwan juga mengatakan bahwa ekspansi bisnis GMF terus dikejar sebagai upaya pengembangan bisnisnya. “Project International Footprint Australia khususnya, saat ini kami sedang kejar finalisasinya agar bisa segera beroperasi. Selain itu, optimalisasi Hangar milik MMF di Surabaya juga kami lakukan karena pasar perawatan pesawat propeler dan general aviation yang dikerjakan disana masih sangat bagus,” ungkap Iwan.

Ia menjelaskan, pengembangan bisnis GMF masih on-track sama halnya dengan penunjukkan Investor Strategis. Menurutnya, saat ini masih berlangsung proses negosiasi, dan diharapkan mencapai kesepakatan pada awal Semester II 2018. “Kami cukup selektif dalam memilih, dalam hal ini kami dibantu Financial Advisor untuk menyeleksi calon investor strategis terbaik yang membawa nilai tambah yang signifikan bagi GMF. Investor strategis ini nantinya diharapkan dapat membantu GMF tidak hanya dari segi finansial tapi juga transfer knowledge dan membawa pasar untuk GMF,” kata Iwan.

Iwan menambahkan, tahun ini GMF menargetkan pertumbuhan revenue sekitar 15% dengan net profit yang diharapkan tetap pada angka double digit. “Beberapa inisiatif dilakukan GMF dalam menjawab target ini yaitu dengan merealisasikan berbagai Strategic Initiatives, memetakan kembali bisnis potensial dan strategi penetrasi psar serta melakukan optimalisasi dalam efisiensi,” pungkas Iwan. (Nikson/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.