Terlihat suasana pameran keris di areal puri Peliatan, Ubud. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Ratusan keris terkumpul dalam pameran yang diselenggarakan Paguyuban, Semas Sanjawata di areal Puri Peliatan, Ubud, Rabu (28/3). Diantara keris itu ada yang berusia 300 tahun dan ada yang seharga ratusan juta rupiah. Termasuk ada 60 keris pusaka yang tidak boleh diperjualbelikan dipamerkan di pameran keris tersebut.

Kelian (ketua) paguyuban, Anak Agung Oka Pustaka, menyatakan ada dua agenda dalam pameran ini. Pertama pameran khusus mempertontonkan keris pusaka. Kedua, ada bursa keris untuk diperjualbelikan kepada masyarakat umum. Adapun keris yang dipamerkan itu sudah memiliki sertifikat. “Yang dipamerkan tidak dijual, karena tergolong keris tua, berumur,” ujarnya.

Diungkapkan keris pusaka tertua, menurut Agung Pustaka ada yang berusia mencapai 300 tahun. Dikatakan keris itu merupakan peninggalan kerajaan Kediri. “Keris tersebut, merupakan warisan turun temurun,” katanya.

Agung Pustaka mengatakan rata-rata pemilik keris pusaka merupakan tokoh, keluarga kerajaan dan pelestari. Ditambahkan bahwa keris pusaka tidak saja berusia tua, keris yang baru dibuat bisa digolongkan menjadi pusaka. “Yang baru dibuat namanya keris Kamardikan. Itu baru dibuat di era sekarang, tapi masuk pusaka,” jelas pria asal Sading, Kabupaten Badung itu.

Baca juga:  Paguyuban Sopir Banjar Gelumpang Tolak Transportasi Online

Dikatakan Pustaka yang menggolongkan keris baru berubah status menjadi pusaka berdasarkan ciri-ciri keris. “Itu ada yang menilai berdasarkan buku panduan keris. Seperti melihat dapur atau garapannya, pamor dan bentuk, termasuk keistimewannya,” ujarnya.

Selain memamerkan keris pusaka, paguyuban yang anggotanya tersebar di Madura, Jawa, Bali dan Lombok itu juga menggelar bursa penjualan keris. Dalam bursa tersebut, aneka keris dijual dengan harga beragam. “Termahal sampai Rp 200 juta, termurah ada yang Rp 75 ribuan,” jelasnya.

Sebagai bentuk eksistensi terhadap pelestarian keris, paguyuban dengan penasihat dua sulinggih dengan panglingsir dari puri Peliatan itu juga rutin menggelar pembersihan keris milik pura-pura maupun puri yang ada di seluruh Bali. “Kami rutin membersihkan keris pusaka di pura maupun puri, karena tujuan kami pelestarian keris,” jelasnya.

Adapun tata cara pembersihan keris tidak mengunakan cairan kimia. “Salah satu caranya dengan merendam pakai air kelapa. Kalau karatnya (kandungan logam, red) di keris itu banyak, maka bisa direndam selama seminggu,” jelasnya. (manik astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.