Anggota Pecalang atau satuan pengamanan adat Bali memantau situasi jalan Legian saat pelaksanaan Hari Raya Nyepi di kawasan Monumen Bom Bali, Kuta, Bali. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Hotel-hotel di Bali diizinkan menjual paket Nyepi kepada wisatawan. Asalkan, paket yang dimaksud tidak mengandung unsur hura-hura.

Wisatawan juga diperkenalkan tentang catur brata penyepian. “Umpamanya tidak memakai lampu, tidak keluar halaman hotel untuk menunjukkan bahwa orang Nyepi itu begini lho di Bali. Biar dia merasakan catur brata penyepian. Kalau ada tamu yang ingin menikmati seperti itu, silakan. Malah bagus kan,” ujar Ketua Komisi I DPRD Bali, Ketut Tama Tenaya di Denpasar, Rabu (7/3).

Namun bila sebaliknya, lanjut Tama, hotel-hotel harus dikenai sanksi tegas. Misalnya, menyediakan paket Nyepi dengan mengajak tamu ke luar hotel. Atau bahkan memfasilitasi untuk acara yang sifatnya hura-hura. “Kalau sampai ada yang begitu, malah berkeliaran, enak-enak disko, makan-makan, hura-hura, itu contoh yang nggak-nggak. Masak bandara bisa stop, tamu di hotel malah berkeliaran, bikin ribut. Saya minta dicabut ijin hotelnya. Harus ditindak tegas,” jelas Politisi PDIP ini.

Tama mengharapkan ada kesadaran dari pihak manajemen hotel agar lebih memperkenalkan tentang Nyepi kepada wisatawan. Hal ini tentu memberikan citra yang lebih positif bagi pariwisata Bali. Selain itu, desa adat yang memiliki pecalang juga diharapkan aktif mengawasi hotel-hotel di wilayah mereka.

Baca juga:  Bali Post Raih Penghargaan IPMA Kategori Koran Nasional

Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika akan mempertimbangkan untuk mencabut ijin hotel yang melakukan hura-hura saat Nyepi. Pihaknya juga mengimbau hotel-hotel supaya menghormati tradisi budaya dan agama Hindu tersebut. Yakni dengan memberitahu para tamu untuk menikmati suasana yang sepi tersebut.

“Silakan saja jual paket Nyepi, tapi jangan bikin hura-hura. Selama ini seringkali jadi salah kaprah, orang menghindari Nyepi pergi ke hotel, disana dia terus hura-hura. Musik gede-gede, lampu terang-terang, saya minta itu supaya disesuaikan. Kan alangkah indahnya kalau semua ikut nyepi, termasuk hotel-hotel gede,” ujarnya.

Menurut Pastika, hotel-hotel harus menghormati tradisi, budaya dan agama yang dianut oleh orang Bali. Bukan sebaliknya malah merusak, karena itulah yang menjadi “jualan” Bali selama ini. “Nanti jualannya malah nggak laku. Kita adalah tempat paling unik di dunia. Bali itu tidak bisa jual hotel bertingkat, yang kita jual keunikan Bali. Apa uniknya, ini, Nyepi tidak ada di seluruh dunia, mari itu yang harus kita hormati,” jelasnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.