solusi
Suasana focus group discusion (FGD) Jawa Bali crossing di gedung pers Bali K. Nadha, Denpasar, Selasa (13/2). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemangku kepentingan Provinsi Bali akhirnya menyepakati untuk mencari solusi bersama dalam soal pembangunan Saluran Listrik Tegangan Tinggi yang menghubungkan Pulau Bali dan Jawa (Jawa Bali Crossing/JBC).

General Manager Distribusi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Bali I Nyoman Suwarjoni Astawa menyatakan bahwa meskipun JBC sudah disepakati menjadi keniscayaan dalam menyelamatkan kehandalan dan menghindari krisis listrik 2021, namun PLN akan menjalankan tuntunan PHDI terkait bhisama.

“Kami menyepakati bahwa level urgensi dari JBC dan antisipasi krisis pasokan listrik Bali ke depan adalah penting dan mesti cepat dilaksanakan. Tentu dengan tuntunan PHDI untuk menjaga kesucian dan nilai luhur yang ada di Bali,” ujarnya.

Senada dengannya, Wakil Ketua PHDI Bali Pinandita Pasek Suardika menyatakan bahwa lembaganya akan segera melaksanakan Pesamuhan Agung membahas soal JBC dan solusi terbaik sesuai dengan Bhisamanya.

“Kami berharap PLN dan semua dari kita sama-sama menjaga Taksu di Pulau Dewata ini. Kami akan membahas masalah ini dalam Pesamuhan Agung tidak lama lagi,” papar Pasek.

Meskipun JBC akan membuat sistem terpadu antara sistem kelistrikan Pulau Bali dan Pulau Jawa, namun dalam implementasinya fokus utama dari adanya JBC justru tidak untuk mengalirkan dari Jawa ke Bali. JBC justru akan memperkuat kehandalan dari sistem kelistrikan Bali.

Akademisi Teknik Elektro Universitas Udayana (Unud) Prof. IA Giri Antari mengatakan, dalam sistem kelistrikan, Bali membutuhkan cadangan listrik. Karena ketika dilakukan pemeliharaan jaringan, ada cadangan listrik yang bisa digunakan. Sehingga tidak terjadi pemadaman.

Baca juga:  Jika Gunung Agung Erupsi, Bandara Ngurah Rai Mulai Siapkan Solusi

JBC sangat dibutuhkan untuk kestabilan sistem kelistrikan di Bali. Jika menginginkan Bali mandiri secara energi, JBC sangat dibutuhkan. Karena jika satu pembangkit di Bali mati, maka pembangkit yang lain juga akan mati. Sementara tidak ada supply dari tempat lain. Misalnya pasokan listrik datang dari Jawa. Ketika pembangkit di Celukan Bawang mengalami perbaikan, maka harus keluar dari sistem. Ketika sistem ini keluar, pasokan dari Jawa inilah yang harus dimanfaatkan. “Kalau kita mau mandiri bukan berarti semua harus dibangun di Bali,” ujarya.

Perwakilan Bappeda Bali Wiratni mengakui telah mengantisipasi kebutuhan energi listrik yang sangat besar. Tingkat konsumsi listrik di Bali rata-rata di atas nasional.

Bali sangat membutuhkan energi listrik yang sesuai dengan visi Pemprov Bali menuju Bali Clean and Green. Maka dari itu pihaknya ingin Bali tetap bertaksu namun juga ada solusi terkait pembangunan JBC. Ia berharap PHDI cepat merespon agar proyek tersebut cepat diselesaikan karena semua aktivitas ditunjang oleh listrik.

Suwarjoni Astawa menambahkan, penambahan sistem JBC ini akan membuat realisasi konsep Bali Clean dan Green lebih nyata. Dengan adanya sistem kelistrikan JBC dari Pulau Jawa, maka akan membuka peluang masuknya pembangkit EBT yang bersih. Sistem Bali akan mampu menangani masuknya pembangkit EBT dalam skala pasokan kecil maupun besar. Sehingga listrik Bali akan semakin handal dan makin bersih di masa depan.(citta maya/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.