penjaga hati
Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa meninjau lokasi pembangunan simbolis-simbolis dari filosofis dan religius dari Pura Petitenget, salah satunya patung Dang Hyang Nirartha. (BP/may)

MANGUPURA, BALIPOST.com –  Semua orang tahu bahwa yang bersthana di Pura Petitenget adalah Dang Hyang Nirartha. Namun di pura tersebut juga terdapat simbolis Bhuto Ijo dengan patungnya yang berada di depan pintu masuk Pura Petitenget. Apa kaitannya Bhuto Ijo dengan Dang hyang Nirartha dan Pura Petitenget?

Panglingsir Puri Kelodan Kerobokan, AA. Ngurah Putra menuturkan, Dang Hyang Nirartha datang dari Jawa sampai di Pura Sakenan. Sebelum ke Pura Uluwatu, Dang Hyang Nirartha sampai di Pura Petitenget. “Dulu di tempat ini tidak dinamakan Petitenget, tapi alas madurgama yang artinya alas angker,” ungkapnya dalam seminar Bhuto Ijo Pengemit Petitenget, Minggu (7/1).

Di alas ini ada yang ngemit yaitu Bhuto Ijo. Setelah Dang Hyang Nirartha sampai di alas Madurgama dengan membawa kotak pecanangan, Dang Hyang Nirartha memutuskan ingin moksa di tempat tersebut. Namun tidak diijinkan karena tidak sepatutnya moksa disana. Sehingga akhirnya Dang Hyang Nirartha moksa di Pura Uluwatu.

Sementara kotak pecanangan yang dibawanya dititipkan di alas madurgama dan Bhuto Ijo diminta untuk menjaganya. Bhuto Ijo yang semula tidak berani kemudian diberi wejangan oleh Dang Hyang Nirartha sehingga pada akhirnya mau menjaga kotak pesucian. Namun dengan diberikan batas-batas kesucian. Siapa saja yang melewati batas-batas tersebut akan sakit dan yang membuat huru hara akan dibunuh. Banyak warga Kerobokan yang sakit dan meninggal, takut melewati batas-batas tersebut. Atas inisiatif warga, tetua dari Kerobokan diminta menghadap Dang Hyang Nirartha untuk meminta petunjuk. Dang Hyang Nirartha pun memberi petunjuk untuk membuatkan palinggih dan menjadi Pura Petitenget saat ini.

Baca juga:  Sebelum Gelar Seminar, Pakelem Alit Digelar untuk Bhuto Ijo

Ketua Panitia, IB Suamba Bhayangkara mengatakan, Bhuto Ijo diberikan tugas di Karang Tenget (Peti Tenget) oleh bhatara sesuhunannya untuk menjaga peti pecanangan dan oleh pemerintah dibuatkan togog Bhuto Ijo yang nantinya akan dijadikan ikon Petitenget.

“Berbicara Bhuto Ijo sangat terkait dengan keberadaan Pura Petitenget dan Pura Masceti Ulun Tanjung. Yang mana kedua pura tersebut tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan Danghyang Nirartha utamanya di Desa Kerobokan,Badung,” ungkapnya.

Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa mengatakan, pihaknya dari Pemkab Badung mengapresiasi sekaligus merasa bangga dan senang dengan diadakannya seminar tentang Bhuto Ijo ini. Karena berkaitan dengan sejarah dan filosofi tentang sosok Bhuto Ijo yang bertugas menjaga pura dan harta di Petitenget. Hingga saat ini masih dibutuhkan sumber-sumber sastra dan sumber-sumber dari pihak yang berkompeten tahu. Agar informasi tentang pura dan sejarahnya tidak keliru. Sehingga semua pihak tahu tidak hanya umat Hindu tapi juga untuk sejarah.

Rencananya, di pintu masuk dari pantai ke Pura Petitenget akan dibangun simbolis-simbolis dari filosofis dan religius dari Pura Petitenget, salah satunya patung Dang Hyang Nirartha. Selain itu dilakukan penataan kawasan pantai untuk menunjang pariwisata, dengan pariwisata religi dan pro lingkungannya. Pemkab Badung juga akan membangun diorama di tempat tersebut dengan melukiskan perjalanan Dang Hyang Nirartha sebagai sosok suci yang mendirikan pura ini serta peran Bhuto Ijo.(citta maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.