NEGARA, BALIPOST.com – Makepung lampit atau yang dikenal dengan makepung bawah (betenan) merupakan kesenian kuno di Jembrana yang belakangan kembali dikembangkan sejumlah masyarakat di Peh, Kaliakah, Kecamatan Negara. Selain berfungsi sebagai ajang latihan sebelum Makepung di sirkuit, Makepung Lampit ini juga menjadi daya tarik wisata yang agak jarang di Jembrana.

Dibanding dengan makepung konvensional yang menggunakan cikar di sirkuit, makepung betenan atau akrab disebut makepung basah ini lebih ramah. Karena tidak berpacu/balapan, para joki cenderung jarang memecut kerbau hingga terluka. Atraksi inipun lebih dapat diterima wisatawan mancanegara khususnya dari Eropa.

Makepung lampit sengaja mengambil lokasi di areal persawahan menjelang musim tanam. Menurut para tetua di Desa Peh, Kaliakah, konon,  makepung betenan ini merupakan cikal bakal dari Makepung yang dikenal saat ini dengan dasaran tanah berpasir atau kering.

Karena berada di air dan lumpur, medannya lebih sulit sehingga kerbau-kerbau lebih terkuras energinya ketika dipacu. Makepung ini mulai berkembang di Peh sekitar tahun 1920-1925, di saat para petani di subak-subak akan mulai menanam padi.

Dengan memanfaatkan sejumlah petak sawah, sepasang kerbau dengan seorang jokinya beradu sepasang kerbau lainnya dengan panjang lintasan 200-300 meter. Sepasang kerbau itu disatukan terikat dengan lampit (alat bajak) yang telah dimodifikasi lebih tipis dan landai.

Pakaian para joki pun tidak mutlak memakai busana lengkap seperti makepung konvensional, bahkan kadang hanya memakai kamben dan bertelanjang dada.

Namun, yang membedakan para joki tetap menggunakan penutup kepala (udeng) khas makepung. Begitu juga sepasang kerbau yang dipacu, aksesorinya lebih sederhana yakni hanya rumbing (aksesoris di kepala kerbau) dan bendera.

Salah seorang penglingsir, Mangku Ketut Lega (70) mengatakan sejatinya makepung betenan ini hanya bisa digelar dengan tekstur tanah sawah yang tidak terlalu dalam. Sehingga kerbau-kerbau bisa leluasa dipacu dan tidak terjerembab di lumpur. Tekstur sawah yang seperti itu bisa didapati di sekitar Peh, Kaliakah dan memungkinkan untuk digelar makepung itu.

Kegiatan ini sejatinya rutin digelar para petani dan pemilik kerbau sekitar Peh dan Manistutu sebagai latihan sebelum bertanding. Terutama saat menjelang musim tanam padi di subak-subak itu. “Lomba juga sering digelar tapi saat musim tanam saja,” ujarnya.

Namun berbeda dengan Makepung dengan sirkuit dimana yang dinilai adalah kecepatan, untuk Makepung lampit ini lebih ke keindahan gerakan kerbau dan joki.

Atraksi kuno ini belakangan juga menarik minat para wisatawan dari luar negeri. Sehingga memacu semangat kelompok warga di Manistutu dan Peh untuk mengembangkan kesenian khas masyarakat agraris Jembrana ini. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.